Posts Tagged ‘fungsi bi’

Lembaga Bank Indonesia dan Fungsinya

I. Tujuan  Bank  Indonesia

Berbeda¬†¬† dengan¬†¬† Undang‚Äźundang¬†¬† Nomor¬†¬† 13¬†¬† Tahun¬†¬† 1968¬†¬† tentang¬†¬† Bank Sentral¬†¬† yang¬†¬† tidak¬†¬† merumuskan¬†¬† secara¬†¬† tegas¬†¬† mengenai¬†¬† tujuan¬†¬† Bank Indonesia,¬†¬† dalam¬†¬† UU‚ÄźBI¬†¬† secara¬†¬† tegas¬†¬† dinyatakan¬†¬† dalam¬†¬† Pasal¬†¬† 7¬†¬† bahwa tujuan¬† Bank¬† Indonesia¬† adalah¬† mencapai¬† dan¬† memelihara¬† kestabilan¬† nilai rupiah¬† yang¬† merupakan¬† single¬† objective¬† Bank¬† Indonesia.¬† Kestabilan¬† nilai rupiah¬† yang¬† dimaksud¬† adalah¬† kestabilan¬† nilai¬† rupiah¬† terhadap¬† barang¬† dan jasa¬† yang¬† tercermin¬† dari¬† perkembangan¬† laju¬† inflasi¬† serta¬† kestabilan¬† terhadap mata¬†¬† uang¬†¬† negara¬†¬† lain¬†¬† yang¬†¬† tercermin¬†¬† pada¬†¬† perkembangan¬†¬† nilai¬†¬† tukar rupiah¬† terhadap¬† mata¬† uang¬† negara¬† lain.

Perumusan¬†¬† tujuan¬†¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† dalam¬†¬† bentuk¬†¬† single¬† objective¬†¬† ini dimaksudkan¬† untuk¬† memperjelas¬† sasaran¬† yang¬† akan¬† dicapai¬† dan¬† batasan tanggung¬† jawab¬† yang¬† harus¬† dipikul¬† oleh¬† Bank¬† Indonesia.¬† Hal¬† ini¬† berbeda dengan¬† tujuan¬† Bank¬† Indonesia¬† dalam¬† Undang‚Äźundang¬† Nomor¬†¬† 13¬† Tahun 1968¬†¬† tentang¬†¬†¬† Bank¬†¬†¬† Sentral¬†¬†¬† yang¬†¬†¬† dirumuskan¬†¬†¬† secara¬†¬†¬† umum¬†¬†¬† yaitu ‚Äúmeningkatkan¬†¬† taraf¬†¬† hidup¬†¬† rakyat‚ÄĚ.¬†¬† Ketidaktegasan¬†¬† perumusan¬† tersebut menimbulkan¬† implikasi¬† antara¬† lain¬† peran¬† Bank¬† Indonesia¬† sebagai¬†otoritas tidak¬† jelas¬† dan¬† tidak¬† terfokus¬† bahkan¬† timbul¬† conflicting¬† karena¬† antara¬† tugas menjaga¬†¬† kestabilan¬†¬† nilai¬†¬† rupiah¬†¬† dengan¬†¬† tugas¬†¬† mendorong¬†¬† pertumbuhan seringkali¬† tidak¬† dapat¬† berjalan¬† seiring.¬† Disamping¬† itu,¬† ketidakjelasan¬† tujuan juga¬† menjadikan¬† tanggung¬† jawab¬† terhadap¬† kebijakan¬† yang¬† diambil¬† tidak jelas.

II. Tugas dan Fungsi Bank Indonesia

Dalam  rangka  mencapai  tujuan  untuk  mencapai  dan  memelihara  kestabilan nilai  rupiah,  Bank  Indonesia  didukung  oleh  tiga  pilar  yang  merupakan   3 (tiga)  bidang  utama  tugas  Bank  Indonesia  yaitu  :

  • menetapkan¬† dan¬† melaksanakan¬† kebijakan¬† moneter,
  • mengatur¬† dan¬† menjaga¬† kelancaran¬† sistem¬† pembayaran
  • serta¬† mengatur¬† dan¬† mengawasi¬† bank.

Agar tujuan mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah tersebut dapat   dicapai secara efektif dan efisien, maka ketiga tugas tersebut harus diintegrasikan.

A. Fungsi dan Tugas menetapkan  dan  melaksanakan  kebijakan  moneter

Untuk¬† mencapai¬† tujuan¬† Bank¬† Indonesia¬† dalam¬† menjaga¬† kestabilan¬† nilai rupiah,¬† Pasal¬†¬† 10¬† UU‚ÄźBI¬† menegaskan¬† bahwa¬† Bank¬† Indonesia¬† memiliki kewenangan¬† untuk¬† melaksanakan¬† kebijakan¬† moneter¬† melalui¬† penetapan sasaran¬†¬† moneter¬†¬† dengan¬†¬† memperhatikan¬†¬† sasaran¬†¬† laju¬†¬† inflasi¬†¬† serta melakukan¬† pengendalian¬† moneter¬† melalui¬† berbagai¬† cara¬† antara¬† lain¬† :

a.       operasi   pasar   terbuka   di   pasar   uang   baik   rupiah   maupun   valuta asing;

b.      penetapan  tingkat  diskonto

c.       penetapan  cadangan  wajib  minimum

d.      pengaturan  kredit  atau  pembiayaan

Cara-cara  pengendalian  moneter  tersebut  dapat  dilaksanakan  juga berdasarkan  prinsip  syariah.  Sasaran  laju  inflasi  ditetapkan  oleh  Bank Indonesia   atas   dasar   tahun   kalender   dengan   memperhatikan perkembangan dan prospek ekonomi makro. Penetapan sasaran laju inflasi   tersebut   terutama   dilakukan   dengan mempertimbangkan perkembangan   harga   yang   secara   langsung   dipengaruhi   oleh kebijakan  moneter.  Sasaran  laju  inflasi  yang  ditetapkan  oleh  Bank Indonesia  tersebut  dapat  berbeda  dengan  asumsi  laju  inflasi  yang dibuat oleh   Pemerintah   dalam   rangka   penyusunan   Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara yang didasarkan pada tahun fiskal.

1.      Peran  Bank  Indonesia  sebagai  Lender  of  the  Last  Resort

Sebagai¬† upaya¬† untuk¬† meningkatkan¬† efektivitas¬† pengendalian¬† moneter, Bank¬† Indonesia¬† juga¬† mempunyai¬† fungsi¬† lender¬† of¬† the¬† last¬† resort,¬† (Pasal 11)¬†¬† yang¬†¬†¬† memungkinkan¬†¬†¬† Bank¬†¬†¬† Indonesia¬†¬†¬† membantu¬† kesulitan pendanaan¬† jangka¬† pendek¬† yang¬† dihadapi¬† bank.¬† Dalam¬† kaitan¬† ini,¬† Bank Indonesia¬†¬† hanya¬†¬† membantu¬†¬† untuk¬†¬† mengatasi¬†¬† kesulitan¬†¬† pendanaan jangka¬† pendek¬† karena¬† adanya¬† mismatch¬† yang¬† disebabkan¬† oleh¬† resiko kredit¬†¬† atau¬†¬† resiko¬†¬† pembiayaan¬†¬† berdasarkan¬†¬† prinsip¬†¬† syariah,¬†¬† resiko manajemen,¬†¬†¬†¬† atau¬†¬†¬†¬† resiko¬†¬†¬†¬† pasar.¬†¬†¬†¬† Untuk¬†¬†¬†¬† mencegah¬†¬†¬†¬† terjadinya penyalahgunaan¬†¬†¬† kredit¬†¬†¬† atau¬†¬†¬† pembiayaan¬†¬†¬† dimaksud,¬†¬†¬† yang¬†¬†¬† pada gilirannya¬† akan¬† dapat¬† mengganggu¬† efektifitas¬† pengendalian¬†¬† moneter, maka¬† pemberian¬† kredit¬† atau¬† pembiayaan¬† berdasarkan¬† prinsip¬† syariah dibatasi¬† selama‚Äźlamanya¬† 90¬† hari.

Disamping¬†¬† itu,¬†¬† kredit¬†¬† atau¬†¬† pembiayaan¬†¬† berdasarkan¬†¬† prinsip¬†¬† syariah tersebut¬† harus¬† dijamin¬† dengan¬† surat¬† berharga¬† yang¬† berkualitas¬† tinggi dan¬† mudah¬† dicairkan. Yang¬†¬† dimaksud¬†¬† dengan¬†¬† agunan¬†¬† yang¬†¬† berkualitas¬†¬† tinggi¬†¬† dan¬†¬† mudah dicairkan¬† meliputi¬† surat¬† berharga¬† dan/atau¬† tagihan¬† yang¬† diterbitkan¬† oleh Pemerintah¬† atau¬† badan¬† hukum¬† lain¬† yang¬† mempunyai¬† peringkat¬† tinggiberdasarkan¬† hasil¬† penilaian¬† lembaga¬† pemeringkat¬† yang¬† kompeten¬† dan sewaktu‚Äźwaktu¬†¬†¬† dengan¬†¬†¬† mudah¬†¬†¬† dicairkan.¬†¬†¬† Apabila¬†¬†¬† kredit¬†¬†¬† ataupembiayaan¬† berdasarkan¬† prinsip¬† syariah¬† tersebut¬† tidak¬† dapat¬† dilunasi pada¬†saat¬† jatuh¬† tempo,¬† Bank¬† Indonesia¬† sepenuhnya¬† berhak¬† mencairkan agunan¬†yang¬† dikuasainya.

2.       Kebijakan  Nilai  Tukar

Pasal 12  UU-BI  menetapkan  bahwa Bank  Indonesia  melaksanakan kebijakan nilai tukar berdasarkan nilai tukar yang ditetapkan. Penetapan nilai tukar dilakukan oleh Pemerintah dalam bentuk Keputusan Presiden berdasarkan usul Bank Indonesia. Kewenangan Bank Indonesia dalam melaksanakan kebijakan nilai tukar ini antara lain dapat berupa :

a.       dalam   sistem   nilai   tukar   tetap   berupa   devaluasi   atau   revaluasi terhadap  mata  uang  asing

b.              dalam  sistem  nilai  tukar  mengambang  berupa  intervensi  pasar;

c.               dalam  nilai  tukar  mengambang  terkendali  berupa  penetapan  nilai tukar  harian  serta  lebar  pita  intervensi.

3.              Kewenangan  dalam  Mengelola  Cadangan  Devisa

Dalam¬† Pasal¬†¬† 13¬† UU‚ÄźBI¬† dirumuskan¬† bahwa¬† Bank¬† Indonesia¬† mengelola cadangan¬† devisa.¬† Dalam¬† rangka¬† pengelolaan¬† cadangan¬† devisa¬† tersebut, Bank¬†Indonesia¬†melaksanakan¬† berbagai¬† jenis¬† transaksi¬† devisa¬† serta¬† dapat menerima¬†¬† pinjaman¬†¬† luar¬†¬† negeri.¬†¬† Yang¬†¬† dimaksud¬†¬† dengan¬†¬† cadangan devisa¬†¬† adalah¬†¬† cadangan¬†¬† devisa¬†¬† negara¬†¬† yang¬†¬† dikuasai¬†¬† oleh¬†¬† Bank Indonesia¬† yang¬† tercatat¬† pada¬† sisi¬† aktiva¬† Bank¬† Indonesia¬† yang¬† antara¬† lain berupa¬† emas,¬† uang¬† kertas¬† asing,¬† dan¬† tagihan¬† lainnya¬† dalam¬† valutas¬† asing kepada¬†¬† pihak¬†¬† luar¬†¬† negeri¬†¬† yang¬†¬† dapat¬†¬† dipergunakan¬†¬† sebagai¬†¬† alat pembayaran¬† luar¬† negeri.

Pengelolaan¬†¬† cadangan¬† devisa¬† oleh¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† dilakukan¬† melalui berbagai¬†¬† jenis¬†¬† transaksi¬†¬† devisa¬†¬† yaitu¬†¬† menjual,¬†¬† membeli,¬†¬† dan/atau menempatkan¬† devisa,¬† emas¬† dan¬† surat‚Äźsurat¬† berharga¬† secara¬† tunai¬† atau berjangka¬† termasuk¬† pemberian¬† pinjaman.¬† Dalam¬† melakukan¬† pengelolaan cadangan¬† devisa,¬† Bank¬† Indonesia¬† selalu¬† mempertimbangkan¬† 3¬† (tiga)¬† azas utama¬†¬† dengan¬†¬† skala¬†¬† prioritas,¬†¬† yaitu¬†¬† likuiditas (liquidity),¬†¬† keamanan (security)¬† tanpa¬† mengabaikan¬† prinsip¬† untuk¬†¬† memperoleh¬† pendapatan yang¬† optimal¬† (profitability).¬† Pinjaman¬† luar¬† negeri¬† yang¬† dilakukan¬† oleh Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† adalah¬†¬† pinjaman¬† luar¬†¬† negeri¬†¬† atas¬†¬† nama¬†¬† dan¬†¬† menjadi tanggung¬†¬† jawab¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† yang¬†¬† semata‚Äźmata¬†¬† digunakan¬† dalam rangka¬† pengelolaan¬† cadangan¬† devisa¬† untuk¬† memperkuat¬† posisi¬† neraca pembayaran.¬† Pinjaman¬† dimaksud¬† dapat¬† dipantau¬† oleh¬† DPR¬† melalui¬† hasil pemeriksaan¬† keuangan¬† oleh¬† BPK.

4.               Penyelenggaraan  Survei

Untuk¬†¬† melaksanakan¬†¬† kebijakan¬†¬† moneter¬†¬† secara¬†¬† efektif¬†¬† dan¬†¬† efisien, diperlukan¬† data/informasi¬† ekonomi¬† dan¬† keuangan¬† secara¬† tepat¬† waktu dan¬† akurat.¬† Untuk¬† memperoleh¬† data/informasi¬† tersebut,¬† Bank¬† Indonesia dapat¬† menyelenggarakan¬† survei¬† secara¬† berkala¬† atau¬† sewaktu‚Äźwaktu¬† yang dapat¬†¬† bersifat¬†¬† makro¬†¬† atau¬†¬† mikro.¬†¬† Pelaksanaan¬†¬† survei¬†¬† tersebut¬†¬† dapat dilaksanakan¬† oleh¬† pihak¬† lain¬† berdasarkan¬† penugasan¬† Bank¬† Indonesia.

Dalam¬†¬†¬† penyelenggaraan¬†¬†¬† survei,¬†¬†¬† setiap¬†¬†¬† badan¬†¬†¬† wajib¬†¬†¬† memberikan keterangan¬† dan¬† data¬† yang¬† diperlukan¬† oleh¬† Bank¬† Indonesia¬† atau¬† pihak lain¬† yang¬† ditugaskan.¬† Bank¬† Indonesia¬† atau¬† pihak¬† lain¬† yang¬† ditugaskan untuk¬† melakukan¬† survei¬† tersebut¬† wajib¬† merahasiakan¬† sumber¬† dan¬† data individual¬†¬† kecuali¬†¬† yang¬†¬† secara¬†¬† tegas¬†¬† dinyatakan¬†¬† lain¬†¬† dalam¬†¬† undang‚Äź undang¬† (Psl.¬† 14)

B. Fungsi dan Peran dalam mengatur  dan  menjaga  kelancaran  sistem  pembayaran

Kewenangan   Bank   Indonesia   dalam   mengatur   dan   menjaga kelancaran sistem pembayaran diatur dalam Pasal  15 sampai dengan Pasal 23 UU-BI. Dalam rangka mengatur dan menjaga kelancaran sistem pembayaran,  Bank  Indonesia  berwenang  untuk  melaksanakan  dan memberikan  persetujuan  dan  izin  atas  penyelenggaraan  jasa  sistem pembayaran,  mewajibkan  penyelenggara  jasa  sistem  pembayaran untuk menyampaikan    laporan   kegiatannya   serta   menetapkan penggunaan alat pembayaran.

Persetujuan   terhadap   penyelenggaraan   jasa   sistem   pembayaran dimaksudkan  agar penyelenggaraan  jasa  sistem  pembayaran  oleh pihak  lain  memenuhi  persyaratan,  khususnya  persyaratan  keamanan dan  efisiensi.  Kewajiban  penyampaian  laporan  berlaku  bagi  setiap penyelenggara jasa sistem pembayaran. Hal ini dimaksudkan agar Bank Indonesia  dapat  memantau  penyelenggaraan  sistem  pembayaran. Penetapan alat pembayaran dimaksudkan agar alat pembayaran yang digunakan dalam masyarakat memenuhi persyaratan keamanan bagi pengguna.   Termasuk   dalam   wewenang   ini   adalah   membatasi penggunaan  alat  pembayaran  tertentu  dalam  rangka  prinsip  kehati-hatian. Dalam rangka pelaksanaan kewenangan tersebut di atas, Bank Indonesia dapat melakukan pemeriksaan terhadap penyelenggara jasa sistem pembayaran.

1.       Pengaturan   dan   Penyelenggaraan   Kliring   serta   Penyelesaian   Akhir Transaksi

Bank  Indonesia  berwenang  mengatur  sistem  kliring  antarbank  dalam mata  uang  rupiah  dan/atau  valuta  asing  yang  meliputi  sistem  kliring domestik  dan  lintas  negara  (Psl.  16). Penyelenggaraan  kegiatan  kliring  antarbank  baik  dalam  rupiah  maupun valuta  asing  serta  penyelesaian  akhir  transaksi  pembayaran  antarbank dilakukan   oleh   Bank   Indonesia   atau   pihak   lain   yang   mendapat persetujuan  dari  Bank  Indonesia  (Psl.  17  jo  Psl.  18).

2.               Mengeluarkan  dan  Mengedarkan  Uang

Sesuai¬†¬† dengan¬†¬† amanat¬†¬† UUD¬†¬† 1945,¬†¬† Bank¬† ¬†Indonesia¬†¬† merupakan¬†¬† satu‚Äź satunya¬† lembaga¬† yang¬† berwenang¬† untuk¬† mengeluarkan¬† dan¬† mengatur peredaran¬† uang¬† rupiah¬† (Psl.¬† 20).¬† Termasuk¬† dalam¬† kewenangan¬† ini¬† adalah mencabut,¬† menarik¬† serta¬† memusnahkan¬† uang¬† serta¬† menetapkan¬† macam, harga,¬†¬† ciri¬†¬† uang¬†¬† yang¬†¬† akan¬†¬† dikeluarkan,¬†¬† bahan¬†¬† yang¬†¬† digunakan¬†¬† dan penentuan¬† tanggal¬† mulai¬† berlakunya¬† sebagai¬† alat¬† pembayaran¬† yang¬† sah (Psl.¬† 19).

Sebagai  konsekuensi  dari  ketentuan  tersebut,  maka  Bank  Indonesia  harus menjamin  ketersediaan  uang  di  masyarakat  dalam  jumlah  yang  cukup dan  dengan  kualitas  yang  memadai.  Uang  yang  dikeluarkan  oleh  Bank Indonesia  dibebaskan  dari  bea  meterai  (Psl.  21).  Bank  Indonesia  dapat mencabut  dan  menarik  uang  rupiah  dari  peredaran  dengan  memberikan penggantian   dengan   nilai   yang   sama (Psl.23).   Konsekuensi   dari ketentuan   ini   maka   Bank   Indonesia   harus   memberikan   kesempatan kepada  masyarakat  untuk  :

  • melakukan¬† penukaran¬† uang¬† dalam¬† pecahan¬† yang¬† sama¬† dan¬† pecahan lainnya;
  • melakukan¬† penukaran¬† uang¬† yang¬† cacat¬† atau¬† dianggap¬† tidak¬† layak
    untuk  diedarkan;
  • menukarkan¬† uang¬† yang¬† rusak¬† sebagian¬† karena¬† terbakar¬† atau¬† sebab lain¬† dengan¬† nilai¬† yang¬† sama¬† atau¬† lebih¬† kecil¬† dari¬† nilai¬† nominalnya yang¬† bergantung¬† pada¬† tingkat¬† kerusakannya.

C. Fungsi dan Peran dalam mengatur  dan  menjaga  kelancaran  sistem  pembayaran

Pengaturan¬† dan¬† Pengawasan¬† Bank¬† merupakan¬† salah¬† satu¬† tugas¬† Bank Indonesia¬† sebagaimana¬† ditentukan¬† dalam¬† Pasal¬† 8¬† UU‚ÄźBI.¬† Dalam¬† rangka melaksanakan¬†¬†¬† tugas¬†¬†¬† ini,¬†¬†¬† Bank¬†¬†¬† Indonesia¬†¬†¬† menetapkan¬†¬†¬† peraturan, memberikan¬† dan¬†mencabut¬† izin¬† atas¬† kelembagaan¬† dan¬† kegiatan¬† usaha tertentu¬†¬† bank,¬†¬† melaksanakan¬†¬† pengawasan¬†¬† bank,¬†¬† serta¬†¬† mengenakan sanksi¬† terhadap¬† bank¬†¬† (Psl.¬†¬† 24).¬† Selain¬† itu,¬† Bank¬† Indonesia¬† berwenang menetapkan¬†¬† ketentuan‚Äźketentuan¬†¬† perbankan¬†¬† yang¬†¬† memuat¬†¬† prinsip kehati‚Äźhatian¬† (Psl.¬† 25).

Berkaitan  dengan  kewenangan  di  bidang  perizinan,  Bank  Indonesia  :

  • memberikan¬† dan¬† mencabut¬† izin¬† usaha¬† bank;
  • memberikan¬†¬† izin¬†¬† pembukaan,¬†¬† penutupan¬†¬† dan¬†¬† pemindahan¬†¬† kantor bank;
    • memberikan¬† persetujuan¬† atas¬† kepemilikan¬† dan¬† kepengurusan¬† bank;
    • memberikan¬† izin¬† kepada¬† bank¬† untuk¬† menjalankan¬† kegiatan‚Äźkegiatan
      usaha  tertentu  (Psl.  26).

Pengawasan  yang  dilakukan  oleh  Bank  Indonesia  meliputi  pengawasan langsung   dan   tidak   langsung (Psl. 27).  Bank   Indonesia   berwenang mewajibkan   bank   untuk   menyampaikan   laporan,   keterangan,   dan penjelasan  sesuai  dengan  tata  cara  yang  ditetapkan  oleh  Bank  Indonesia, dimana  hal  ini  dapat  dilakukan  terhadap  perusahaan  induk,  perusahaan anak,  pihak  terkait  dan  pihak  terafiliasi  dari  bank  apabila  diperlukan (Psl.  28).

Pemeriksaan   terhadap   bank   dilakukan   secara   berkala   maupun   setiap waktu   apabila   diperlukan   dan   dapat   dilakukan   terhadap   perusahaan induk,  perusahaan  anak,  pihak  terkait  dan  pihak  terafiliasi  dari  bank apabila   diperlukan.   Bank   dan   pihak   lain   tersebut   wajib   memberikan kepada  pemeriksa:

  • keterangan¬† dan¬† data¬† yang¬† diminta;
  • kesempatan¬† untuk¬† melihat¬† semua¬† pembukuan,¬† dokumen,¬† dan¬† sarana
    fisik  yang  berkaitan  dengan  kegiatan  usahanya;
  • hal‚Äźhal¬†¬†¬† lain¬†¬†¬† yang¬†¬†¬† diperlukan¬†¬†¬† seperti¬†¬†¬† salinan¬†¬†¬† dokumen¬†¬†¬† yang
    diperlukan¬† dan¬† lain‚Äźlain¬† (Psl.¬† 29).

Bank¬† Indonesia¬† dapat¬† menugasi¬† pihak¬† lain¬† untuk¬† dan¬† atas¬† nama¬† Bank Indonesia¬†¬† melaksanakan¬†¬† pemeriksaaan¬†¬† terhadap¬†¬† bank¬†¬† (Psl.¬†¬† 30)¬†¬† Bank Indonesia¬† dapat¬† memerintahkan¬† bank¬† untuk¬† menghentikan¬† sementara sebagian¬†¬† atau¬†¬† seluruh¬†¬† kegiatan¬†¬† transaksi¬†¬† tertentu¬†¬† apabila¬†¬† menurut penilaian¬† Bank¬† Indonesia¬† transaksi¬† tersebut¬† diduga¬† merupakan¬† tindak pidana¬† di¬† bidang¬† perbankan¬†¬† (Psl.¬†¬† 31).¬† Dalam¬† hal¬† keadaan¬† suatu¬† bank menurut¬† penilaian¬† Bank¬† Indonesia¬† membahayakan¬† kelangsungan¬† usaha bank¬†¬† yang¬†¬† bersangkutan¬†¬† dan/atau¬†¬† membahayakan¬†¬† sistem¬†¬† perbankan atau¬†¬† terjadi¬†¬† kesulitan¬†¬† perbankan¬†¬† yang¬†¬† membahayakan¬†¬† perekonomian nasional,¬† Bank¬† Indonesia¬† dapat¬† melakukan¬† tindakan¬† sebagaimana¬† diatur dalam¬† undang‚Äźundang¬† tentang¬† Perbankan¬† yang¬† berlaku¬† (Psl.¬† 33).

  • Pengalihan¬† Tugas¬† Pengawasan¬† Bank

Dalam¬† UU‚ÄźBI¬† ditetapkan¬† bahwa¬† tugas¬† mengawasi¬† bank¬† akan¬† dialihkan kepada¬†¬† lembaga¬†¬† pengawasan¬†¬† sektor¬†¬† jasa¬†¬† keuangan¬†¬† independen¬†¬† yang dibentuk¬† berdasarkan¬† undang‚Äźundang¬† selambat‚Äźlambatnya¬† 31¬† Desember 2002 (Psl.¬† 34).¬† Tugas¬† yang¬† dialihkan¬† kepada¬† lembaga¬† ini¬† tidak¬† termasuk tugas¬† pengaturan¬† bank¬† serta¬† tugas¬† yang¬† berkaitan¬† dengan¬† perizinan. Lembaga¬†¬† pengawasan¬†¬† independen¬†¬† ini¬†¬† akan¬†¬† melakukan¬†¬† pengawasan terhadap¬†¬† semua¬†¬† lembaga¬†¬† jasa¬†¬† keuangan¬†¬† seperti¬†¬† bank,¬†¬† asuransi,¬†¬† dana pensiun,¬† sekuritas,¬† modal¬† ventura,¬† dan¬† perusahaan¬† pembiayaan¬† serta badan‚Äźbadan¬†¬†¬†¬† lain¬†¬†¬†¬† yang¬†¬†¬†¬† menyelenggarakan¬†¬†¬†¬† pengelolaan¬†¬†¬† ¬†dana masyarakat.

III. Dewan Gubernur

Dalam¬†¬† melaksanakan¬†¬† tugasnya¬†¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† dipimpin¬†¬† oleh¬†¬† Dewan Gubernur¬† yang¬† terdiri¬† dari¬† seorang¬† Gubernur,¬† seorang¬† Deputi¬† Gubernur Senior,¬† dan¬† sekurang‚Äźkurangnya¬† 4¬† (empat)¬† orang¬† atau¬† sebanyak‚Äźbanyaknya 7¬† (tujuh)¬†¬† Deputi¬†¬† Gubernur¬†¬† dengan¬†¬† Gubernur¬†¬† sebagai¬†¬† pemimpin¬†¬† Dewan Gubernur¬† (Psl¬† 36¬† jo¬† Psl.¬† 37).¬† Dewan¬† Gubernur¬† mewakili¬† Bank¬† Indonesia¬† di dalam¬†¬† dan¬†¬† di¬†¬† luar¬†¬† Pengadilan,¬†¬† dimana¬†¬† kewenangan¬†¬† mewakili¬†¬† tersebut dilaksanakan¬† oleh¬† Gubernur¬† (Psl.¬† 39).

Gubernur   dan   Deputi   Gubernur   Senior   diusulkan   dan   diangkat   oleh Presiden  dengan  persetujuan  DPR.  Sedangkan  Deputi  Gubernur  diusulkan oleh  Gubernur  dan  diangkat  oleh  Presiden  dengan  persetujuan  DPR.  Untuk dapat  diangkat  menjadi  anggota  Dewan  Gubernur  harus  memenuhi  syarat antara  lain  berkewarganegaraan  Indonesia,  memiliki  akhlak  dan  moral  yang tinggi,   serta   memiliki   keahlian   dan   pengalaman   di   bidang   ekonomi, keuangan,  perbankan,  atau  hukum  (Psl.  40).

Anggota  Dewan  Gubernur  diangkat  untuk  masa  jabatan  selama   5   (lima) tahun   (Psl.  41).  Sebelum  memangu  jabatannya,  anggota  Dewan  Gubernur wajib  mengucapkan  sumpah  atau  janji  di  hadapan  Ketua  Mahkamah  Agung (Psl.  42).  Anggota  Dewan  Gubernur  tidak  dapat  diberhentikan  dalam  masa jabatannya  kecuali  karena  yang  bersangkutan  mengundurkan  diri,  terbukti melakukan  tindak  pidana  kejahatan,  atau  berhalangan  tetap  (Psl.  48)  Sebagai pimpinan  Bank  Indonesia,  Dewan  Gubernur  berwenang  untuk  mengangkat dan  memberhentikan  pegawai  Bank  Indonesia  serta  menetapkan  peraturan kepegawaian,  sistem  penggajian,  penghargaan,  pensiun,  dan  tunjangan  hari tua   serta   penghasilan   lainnya   bagi   pegawai   Bank   Indonesia (Psl. 44).

Disamping   itu,   gaji,   penghasilan   lainnya,   dan   fasilitas   Dewan   Gubernur ditetapkan  oleh  Dewan  Gubernur  (Psl.  51).

1.       Larangan  Bagi  Anggota  Dewan  Gubernur

Antara   sesama   anggota   Dewan   Gubernur   dilarang   mempunyai hubungan  keluarga  sampai  dengan  derajat  ketiga  serta  hubungan besan.  Jika  setelah  pengangkatan  terbukti  mempunyai  hubungan  atau terjadi   hubungan   keluarga   yang   dilarang,   maka   dalam   waktu 7 (tujuh)  hari  kerja  sejak  terbukti mempunyai  atau  terjadi  hubungan keluarga  tersebut,  salah  satu  diantara  mereka  harus mengudurkan diri.   Apabila   salah   satu   anggota   Dewan   Gubernur   tersebut   tidak bersedia   mengundurkan   diri,   maka   Presiden   menetapkan   kedua anggota  Dewan  Gubernur  tersebut  untuk  berhenti  dari  jabatannya (Psl.  46).

Anggota¬†¬† Dewan¬†¬† Gubernur¬†¬† baik¬†¬† sendiri¬†¬† maupun¬†¬† bersama‚Äźsama dilarang¬† mempunyai¬† kepentingan¬† langsung¬† atau¬† tidak¬† langsung¬† pada perusahaan¬† mana¬† pun¬† juga,¬† merangkap¬† jabatan¬† pada¬† lembaga¬† lain kecuali¬† karena¬† kedudukannya¬† wajib¬† memangku¬† jabatan¬† tersebut¬† serta menjadi¬† pengurus¬† dan/atau¬† anggota¬† partai¬† politik.¬† Dalam¬† hal¬† anggota Dewan¬† Gubernur¬† melakukan¬† salah¬† satu¬† atau¬† lebih¬† larangan¬† tersebut, maka¬† anggota¬† Dewan¬† Gubernur¬† tersebut¬† wajib¬† mengundurkan¬† diri dari¬† jabatannya¬† (47)xcdc

2.       Perlindungan  Hukum  Bagi  Anggota  Dewan  Gubernur

Anggota  Dewan  Gubernur   dan/atau  pejabat  Bank   Indonesia   tidak dapat  dihukum  karena  telah  mengambil  keputusan  atau  kebijakan yang  sejalan  dengan  tugas  dan  wewenangnya  sepanjang  dilakukan dengan  itikad  baik  (Psl.  45).

Pengambilan   keputusan   dianggap   dilakukan   dengan   itikad   baik apabila:

  • dilakukan¬† dengan¬† maksud¬† tidak¬† mencari¬† keuntungan¬† bagi¬† diri sendiri,¬†¬† keluarga,¬†¬† kelompoknya¬†¬† sendiri,¬†¬† dan/atau¬†¬† tindakan‚Äź tindakan¬† lain¬† yang¬† berindikasikan¬† korupsi,¬† kolusi¬† dan¬† nepotisme;
  • dilakukan¬† berdasarkan¬† analisis¬† yang¬† mendalam¬† dan¬† berdampak positif;
  • diikuti¬†¬† dengan¬†¬† rencana¬†¬† tindakan¬†¬† preventif¬†¬† apabila¬†¬† keputusan yang¬† diambil¬† ternyata¬† tidak¬† tepat;
  • dilengkapi¬† dengan¬† sistem¬† pemantauan.

Ketentuan  ini  dimaksudkan  untuk  memberikan  perlindungan  hukum atas  tanggung  jawab  pribadi  bagi  anggota  Dewan  Gubernur  dan/atau pejabat   Bank   Indonesia   yang   dengan   itikad   baik   berdasarkan kewenangannya  telah  mengambil  keputusan  yang  sangat  sulit  tetapi sangat  diperlukan  dalam  melaksanakan  tugas  dan  wewenangnya.

3.       Rapat  Dewan  Gubernur

Rapat¬†¬†¬† Dewan¬†¬†¬† Gubernur,¬†¬†¬† sebagai¬†¬†¬† suatu¬†¬†¬† forum¬†¬†¬† pengambilan keputusan¬†¬† tertinggi,¬†¬† diselenggarakan¬†¬† sekurang‚Äźkurangnya¬†¬† sekali dalam¬†¬† sebulan¬†¬† untuk¬†¬† menetapkan¬†¬† kebijakan¬†¬† umum¬†¬† di¬†¬† bidang moneter,¬†¬† serta¬†¬† sekurang‚Äźkurangnya¬†¬† sekali¬†¬† dalam¬†¬† seminggu¬†¬† untuk melakukan¬†¬† evaluasi¬†¬† atas¬†¬† pelaksanaan¬†¬† kebijakan¬†¬† moneter¬†¬† atau menetapkan¬†¬† kebijakan¬†¬† lain¬†¬† yang¬†¬† prinsipil¬†¬† dan¬†¬† strategis¬†¬† seperti kebijakan¬†¬†¬† di¬†¬†¬† bidang¬†¬†¬† pengaturan¬†¬†¬† dan¬†¬†¬† pemeliharaan¬†¬†¬† sistem pembayaran¬† serta¬† pengaturan¬† dan¬† pengawasan¬† bank.¬† Rapat¬† Dewan Gubernur¬† dinyatakan¬† sah¬† apabila¬† dihadiri¬† sekurang‚Äźkurangnya¬† oleh lebih¬† dari¬† separuh¬† anggota¬† Dewan¬† Gubernur.

Keputusan¬† rapat¬† Dewan¬† Gubernur¬† dilakukan¬† atas¬† dasar¬† musyawarah untuk¬†¬† mufakat,¬†¬† dimana¬†¬† apabila¬†¬† mufakat¬†¬† tidak¬†¬† tercapai,¬†¬† Gubernur menetapkan¬†¬† keputusan¬†¬† akhir.¬†¬† Dalam¬†¬† keadaan¬†¬† darurat¬†¬† dan¬†¬† rapat Dewan¬†¬† Gubernur¬†¬† tidak¬†¬† dapat¬†¬† dilaksanakan¬†¬† karena¬†¬† kuorum¬†¬† tidak terpenuhi,¬† Gubernur¬† atau¬† sekurang‚Äźkurangnya¬† 2¬† (dua)¬† orang¬† anggota Dewan¬† Gubernur¬† dapat¬† menetapkan¬† kebijakan¬† dan/atau¬† mengambil keputusan¬†¬† yang¬†¬† sangat¬†¬† diperlukan¬†¬† karena¬†¬† apabila¬†¬† tidak¬†¬† diambil tindakan¬† tertentu¬† dapat¬† berdampak¬† negatif¬† baik¬† bagi¬† Bank¬† Indonesia maupun¬† bagi¬† pelaksanaan¬† tugas¬† Bank¬† Indonesia.¬† Kebijakan¬† dan/atau keputusan¬†¬† ini¬†¬† wajib¬†¬† dilaporkan¬†¬† selambat‚Äźlambatnya¬†¬† dalam¬†¬† Rapat Dewan¬† Gubernur¬† berikutnya¬† (Psl.¬† 43).

IV. INDEPENDENSI  BANK  INDONESIA

1. Yuridis

UU‚ÄźBI¬†¬†¬† merupakan¬†¬†¬† landasan¬†¬†¬† yuridis¬†¬†¬† bagi¬†¬†¬† independensi¬†¬†¬† BankIndonesia¬†¬† dimana¬†¬† dalam¬†¬† UU‚ÄźBI¬†¬† dimuat¬†¬† berbagai¬†¬† elemen¬†¬† dariindependensi¬† Bank¬† Indonesia.¬† Elemen‚Äźelemen¬† independensi¬† tersebutmeliputi¬† antara¬† lain¬† status¬† dan¬† kedudukan,¬† tujuan¬† dan¬† tugas¬† sertamanajemen¬† dan¬† personalia¬† Bank¬† Indonesia.

2. Personalia

Independensi¬†¬†¬† personalia¬†¬†¬† dalam¬†¬†¬† UU‚ÄźBI¬†¬†¬† ditunjukan¬†¬†¬† dalam¬† ¬†¬†hal pengangkatan¬†¬† anggota¬†¬† Dewan¬†¬† Gubernur¬†¬† oleh¬†¬† Presiden¬†¬† dengan persetujuan¬†¬† DPR.¬†¬† Persyaratan¬†¬† persetujuan¬†¬† DPR¬†¬† ini¬†¬† penting¬†¬† untuk menjaga¬†¬† independensi¬†¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† dari¬†¬† intervensi¬†¬† Pemerintah melalui¬† pengangkatan¬† anggota¬† Dewan¬† Gubernur.¬† Pengangkatan¬† oleh Presiden¬† di¬† sini¬† adalah¬† dalam¬† kapasitasnya¬† sebagai¬† Kepala¬† Negara dan¬†¬† bukan¬†¬† Kepala¬†¬† Pemerintah.¬†¬† Disamping¬†¬† itu,¬†¬† anggota¬†¬† Dewan Gubernur¬†¬† tidak¬†¬† dapat¬†¬† diberhentikan¬†¬† oleh¬†¬† Presiden¬†¬† selama¬†¬† masa jabatannya¬†¬† kecuali¬†¬† mengundurkan¬†¬† diri,¬†¬† berhalangan¬†¬† tetap¬†¬† atau melakukan¬† tindak¬† pidana¬† kejahatan.

3. Institusi

Bank¬† Indonesia¬† adalah¬† lembaga¬† negara¬† yang¬† independen¬† yang¬† dalam melaksanakan¬†¬† fungsi¬†¬† dan¬†¬† tugasnya¬†¬† bebas¬†¬† dari¬†¬† campur¬†¬† tangan pemerintah¬†¬† atau¬†¬† pihak‚Äźpihak¬†¬† lainnya.¬†¬† Secara¬†¬† struktural,¬†¬† Bank Indonesia¬† berada¬† di¬† luar¬† pemerintah¬† sehingga¬† dapat¬† mengeliminir adanya¬† intervensi¬† terhadap¬† pelaksanaan¬† tugas¬† Bank¬† Indonesia¬† baik yang¬†¬† berasal¬†¬† dari¬†¬† pemerintah¬†¬† maupun¬†¬† pihak¬†¬† lain.¬†¬† Dalam¬†¬† rangka pelaksanaan¬† tugasnya,¬† Bank¬† Indonesia¬† dapat¬† melakukan¬† kerja¬† sama dengan¬† bank¬† sentral¬† lainnya,¬† organisasi¬† internasional,¬† dan¬† lembaga internasional¬† serta¬† dapat¬† menjadi¬† anggota¬† pada¬† lembaga¬† multilateral, baik¬† atas¬† nama¬† Bank¬† Indonesia¬† maupun¬† mewakili¬† Pemerintah.

4. Tujuan

Dalam¬†¬† UU‚ÄźBI¬†¬† tujuan¬†¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† difokuskan¬†¬† pada¬†¬† menjaga kestabilan¬† nilai¬† rupiah¬† yang¬† tercermin¬† pada¬† laju¬† inflasi¬† yang¬† rendah dan¬†¬† kestabilan¬† ¬†nilai¬†¬† tukar.¬†¬† Dalam¬†¬† mencapai¬†¬† tujuan¬†¬† ini,¬†¬† Bank Indonesia¬†¬†¬† sepenuhnya¬†¬†¬† berwenang¬†¬†¬† untuk¬†¬†¬† menetapkan¬†¬†¬† sasaran moneter¬† dengan¬† memperhatikan¬† perkembangan¬† ekonomi¬† baik¬† dalam negeri¬† maupun¬† luar¬† negeri¬† serta¬† instrumen¬† yang¬† akan¬† digunakan.

5. Tugas

Independensi  dalam  pelaksanaan  tugas  tercermin  dari  larangan  bagi pihak  lain  untuk  melakukan  segala  bentuk  campur  tangan  terhadap pelaksanaan   tugas   Bank   Indonesia.   Bank   Indonesia   juga   wajib menolak  dan/atau  mengabaikan  segala  bentuk  campur  tangan  dari pihak  manapun  dalam  rangka  pelaksanaan  tugasnya.

6. Manajemen

Bank¬† Indonesia¬† dipimpin¬† oleh¬† Dewan¬† Gubernur¬† yang¬† sepenuhnya berwenang¬†¬† dalam¬†¬† menjalankan¬†¬† organisasi¬†¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† dalam rangka¬† mencapai¬† tujuan¬† yang¬† telah¬† ditetapkan¬† oleh¬† UU‚ÄźBI.

7. Anggaran

Independensi¬† dalam¬† bidang¬† anggaran¬† terlihat¬† dalam¬† ketentuan¬† Pasal 60 yang¬† menyatakan¬† bahwa¬† anggaran¬† Bank¬† Indonesia¬† ditetapkan¬† oleh Dewan¬† Gubernur.¬† Anggaran¬† harus¬† disampaikan¬† kepada¬† DPR¬† yang dimaksudkan¬† untuk¬† dapat¬† memantau¬† pengelolaan¬† kewenangan¬† Bank Indonesia¬† dalam¬† Ikhtisar¬† Undang‚Äźundang¬† No.¬† 23¬† Tahun¬† 1999¬† tentang Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† anggaran¬†¬† serta¬†¬† kepada¬†¬† Pemerintah¬†¬† sebagai¬†¬† bahan informasi¬†¬† berkaitan¬†¬† dengan¬†¬† surplus¬†¬† atau¬†¬† defisit¬†¬† anggaran¬†¬† Bank Indonesia.

8. Transparans

iSebagai   konsekuensi   dari   independensi   yang   dimilikinya,   maka dalam  pelaksanaan  tugasnya  Bank  Indonesia  dituntut  untuk  lebih transparan  dan  bertanggung  jawab.  Transparansi  dan  akuntabilitas ini  diwujudkan  dalam  pertanggungjawaban  kepada  publik  dimana Bank  Indonesia  wajib  menyampaikan  informasi  kepada  masyarakat secara  terbuka.  Bank  Indonesia juga  wajib  mengumumkan  laporan keuangan  tahunan  kepada  publik  melalui  media  massa.

V. AKUNTABILITAS

Dalam¬† UU‚ÄźBI¬† dianut¬† pertanggungjawaban¬† publik,¬† dimana¬† pada¬† setiap¬† awal tahun¬†¬† anggaran¬†¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† wajib¬†¬† menyampaikan¬†¬† informasi¬†¬† kepada masyarakat¬†¬† secara¬†¬† terbuka¬†¬† melalui¬†¬† media¬†¬† masa¬†¬† mengenai¬†¬† evaluasi pelaksanaan¬† kebijakan¬† moneter¬† tahun¬† sebelumnya¬† dan¬† rencana¬† kebijakan moneter¬†¬† tahun¬†¬† yang¬†¬† akan¬†¬† datang.¬†¬† Informasi¬†¬† tersebut¬†¬† juga¬†¬† disampaikan kepada¬† Presiden¬† dan¬† Dewan¬† Perwakilan¬† Rakyat. ¬† Disamping¬† ¬†itu,¬† setiap¬†¬† 3 (tiga)¬† bulan¬† Bank¬†Indonesia¬† wajib¬† menyampaikan¬† laporan¬† perkembangan pelaksanaan¬† tugas¬† dan¬† wewenangnya¬† kepada¬† Dewan¬† Perwakilan¬† Rakyat. Apabila¬†¬† diperlukan,¬† Dewan¬†¬† Perwakilan¬†¬† Rakyat¬†¬† dapat¬†¬† meminta¬† Bank Indonesia¬† untuk¬† memberikan¬† penjelasan ¬†mengenai¬† pelaksanaan¬† tugas¬† dan wewenangnya¬† (Psl.¬† 58).

Anggaran  tahunan  Bank  Indonesia  harus  disampaikan  kepada  DPR  (Psl.  60). Bank  Indonesia  wajib  menyampaikan  laporan  keuangan  tahunan  kepada Badan  Pemeriksa  Keuangan.  Laporan  keuangan  tahunan  Bank  Indonesia diperiksa   oleh   Badan   Pemeriksa   Keuangan,   yang   hasilnya   disampaikan kepada   DPR.   Bank   Indonesia   juga   diwajibkan   untuk   mengumumkan laporan keuangan tahunan  kepada  publik  melalui  media  massa  (Psl.  61).

VI. Hubungan dengan Pemerintah

Tidak¬† berbeda¬† dengan¬† UU¬† Nomor¬†¬† 13¬† Tahun¬†¬† 1968¬† tentang¬† Bank¬† Sentral, berdasarkan¬† UU‚ÄźBI¬† Bank¬† Indonesia¬† juga¬† bertindak¬† sebagai¬† pemegang¬† kas pemerintah¬†¬† (Psl.¬†¬† 52).¬†¬† Disamping¬†¬† itu,¬†¬† atas¬†¬† permintaan¬†¬† Pemerintah,¬†¬† Bank Indonesia¬† untuk¬† dan¬† atas¬† nama¬† Pemerintah¬† dapat¬† menerima¬† pinjaman¬† luar negeri,¬†¬† menatausahakan,¬†¬† serta¬†¬† menyelesaikan¬†¬† tagihan¬†¬† dan¬†¬† kewajiban keuangan¬† Pemerintah¬† terhadap¬† pihak¬† luar¬† negeri¬† (Psl.¬† 53).

Pemerintah  wajib  meminta  pendapat  dan/atau  mengundang  Bank  Indonesia dalam   sidang   kabinet   yang   membahas   mengenai   masalah   ekonomi, perbankan   dan   keuangan   yang   berkaitan   dengan   tugas   Bank   Indonesia. Bank  Indonesia  juga  dapat  memberikan  pendapat  dan  pertimbangan  kepada Pemerintah  mengenai  Rancangan  Anggaran  Pendapatan  dan  Belanja  Negara serta   kebijakan   lain   yang   berkaitan   dengan   tugas   dan   wewenang   Bank Indonesia  (Psl.  54).

Pemerintah¬† juga¬† wajib¬† berkonsultasi¬† dengan¬† Bank¬† Indonesia¬† apabila¬† akan menerbitkan¬†¬†¬† surat¬†¬†¬† utang¬†¬†¬† negara.¬†¬† Bank¬†¬† ¬†Indonesia¬†¬† dapat¬†¬†¬† membantu penerbitan¬†¬† surat¬†¬† utang¬†¬† negara,¬†¬† terutama¬†¬† informasi¬†¬† mengenai¬†¬† pasar¬†¬† dan waktu¬† penerbitan¬† surat¬† utang¬† tersebut.¬† Bank¬† Indonesia¬† dilarang¬† membeli untuk¬† diri¬† sendiri¬† surat¬† utang¬† negara¬† tersebut¬† di¬† pasar¬† primer¬† dan¬† hanya dapat¬† membeli¬† di¬† pasar¬† sekunder¬† yang¬† semata‚Äźmata¬† hanya¬† untuk¬† tujuan pelaksanaan¬† kebijakan¬† moneter¬† (Psl.¬† 55).

Salah¬†¬† satu¬†¬† perubahan¬†¬† yang¬†¬† penting¬†¬† dalam¬†¬† UU‚ÄźBI¬†¬† adalah¬†¬† larangan pemberian¬† kredit¬† kepada¬† Pemerintah.¬† Selama¬† ini¬† pemberian¬† kredit¬† kepada Pemerintah¬†¬† ditujukan¬†¬† untuk¬†¬† memperkuat¬†¬† kas¬†¬† negara¬†¬† dalam¬†¬† mengatasi defisit¬†¬† spending.¬†¬† Dalam¬†¬† UU‚ÄźBI¬†¬† secara¬†¬† tegas¬†¬† dinyatakan¬†¬† bahwa¬†¬† Bank Indonesia¬† dilarang¬† memberikan¬† kredit¬† kepada¬† Pemerintah¬† karena¬† dianggap dapat¬† mengganggu¬† keutuhan¬† konsep¬† independensi¬† Bank¬† Indonesia¬† (Psl.¬† 56).

Walaupun  Bank  Indonesia  merupakan  lembaga  yang  independen,  namun koordinasi  dengan  Pemerintah  yang  bersifat  konsultatif  tetap  diperlukan. Pemerintah   yang   diwakili   seorang   Menteri   atau   lebih   dapat   menghadiri Rapat  Dewan  Gubernur  dengan  hak  bicara  tanpa  hak  suara  (Psl.  43  ayat  (1) Hubungan  dengan  Pemerintah  juga  nampak  dalam  pembagian  surplus  dari hasil   kegiatan   Bank   Indonesia.   Sisa   surplus   Bank   Indonesia   setelah dikurangi   30%  untuk  cadangan  tujuan  dan   10%  untuk  cadangan  umum diserahkan   kepada   Pemerintah   dengan   ketentuan   terlebih   dahulu   harus digunakan  untuk  membayar  kewajiban  Pemerintah  kepada  Bank  Indonesia (Psl.  62).

VII. Ketentuan Hukum

1.               Produk  Hukum

Salah¬†¬†¬† satu¬†¬†¬† yang¬†¬†¬† menonjol¬†¬†¬† dalam¬† ¬†¬†UU‚ÄźBI¬†¬†¬† adalah¬†¬†¬† ketentuan pelaksanaannya¬†¬† diatur¬†¬† dalam¬†¬† Peraturan¬†¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† yang mengatur¬†¬† dan¬†¬† mengikat¬†¬† publik¬†¬† serta¬†¬† Peraturan¬†¬† Dewan¬†¬† Gubernur yang¬† mengatur¬† dan¬† mengikat¬† ke¬† dalam¬† Bank¬† Indonesia.¬† Penetapan Peraturan¬†¬†¬† Bank¬†¬†¬† Indonesia¬†¬†¬† dan¬†¬†¬† Peraturan¬†¬†¬† Dewan¬†¬†¬† Gubernur merupakan¬† bentuk¬† independensi¬† dalam¬† pembuatan¬† peraturan¬† yang berkaitan¬†¬† dengan¬†¬† pelaksanaan¬†¬† tugas¬†¬† Bank¬†¬† Indonesia.¬†¬† Dengan demikian¬†¬† maka¬†¬† dapat¬†¬† dieliminir¬†¬† intervensi¬†¬† dari¬†¬† Pemerintah¬†¬† atau pihak¬† lain¬† melalui¬† peraturan¬† perundang‚Äźundangan.

2.      Ketentuan  Pidana  dan  Sanksi  Administratif

Ketentuan¬† Pidana¬† dan¬† sanksi¬† administratif¬† diatur¬† dalam¬† mulai¬† Pasal 65 sampai¬† dengan¬† Pasal¬† 72.¬† Tindakan¬† atau¬† perbuatan¬† yang¬† diancam dengan¬†¬†¬† pidana¬†¬†¬† dalam¬†¬†¬† UU‚ÄźBI¬†¬†¬† meliputi¬†¬†¬† pelanggaran¬†¬†¬† terhadap kewajiban¬†¬† penggunaan¬†¬† uang¬†¬† rupiah¬†¬† di¬†¬† wilayah¬†¬† RI,¬†¬† pelanggaran terhadap¬† kewajiban¬† untuk¬† tidak¬† menolak¬† penggunaan¬† uang¬† rupiah, pelanggaran¬†¬† atas¬†¬† larangan¬†¬† campur¬†¬† tangan¬†¬† terhadap¬†¬† pelaksanaan ugas¬† Bank¬† Indonesia,¬† pelanggaran¬† kewajiban¬† untuk¬† menolak¬† campur tangan,¬† pelanggaran¬† atas¬† kewajiban¬† memberikan¬† keterangan¬† dan¬† data yang¬† diperlukan,¬† pelanggaran¬† atas¬† larangan¬† membeli¬† surat¬† berharga di¬† pasar¬† primer,¬† serta¬† pelanggaran¬† atas¬† rahasia¬† jabatan.

Pelanggaran¬†¬† terhadap¬†¬† ketentuan¬†¬† kewajiban¬†¬† penggunaan¬†¬† Rupiah sebagai¬†¬† alat¬†¬† pembayaran¬†¬† di¬†¬† wilayah¬†¬† RI¬†¬† diancam¬†¬† dengan¬†¬† pidana kurungan¬† sekurang‚Äźkurangnya¬† 1¬† bulan¬† dan¬† paling¬† lama¬† 3¬† bulan¬† serta denda¬† sekurang‚Äźkurangnya¬† Rp.¬† 2¬† juta¬† dan¬† paling¬† banyak¬† Rp.¬† 6¬† juta (Psl.¬† 65).¬† Setiap¬† orang¬† atau¬† badan¬† yang¬† menolak¬† rupiah¬† sebagai¬† alat pembayaran¬†¬† di¬†¬† wilayah¬†¬† RI¬†¬† diancam¬†¬† pidana¬†¬† penjara¬†¬† sekurang‚Äź kurangnya¬† 1¬† tahun¬† dan¬† paling¬† lama¬† 3¬† tahun¬† serta¬† denda¬† sekurang‚Äź kurangnya¬† Rp.¬† 1¬† miliar¬† dan¬† paling¬† banyak¬† Rp.¬† 3¬† miliar¬† (Psl.¬† 66).

Pelanggaran¬†¬† terhadap¬†¬† larangan¬†¬† untuk¬†¬† melakukan¬†¬† campur¬†¬† tangan terhadap¬† pelaksanaan¬† tugas¬† Bank¬† Indonesia¬† diancam¬† pidana¬† penjara sekurang‚Äźkurangnya¬†¬† 2¬† tahun¬† dan¬† paling¬† lama¬†¬† 5¬† tahun¬† serta¬† denda sekurang‚Äźkurangnya¬† Rp.¬† 2¬† miliar¬† dan¬† paling¬† banyak¬† Rp.¬† 5¬† miliar¬† (Psl. 67). Anggota¬† Dewan¬† Gubernur¬† dan/atau¬† pejabat¬† Bank¬† Indonesia¬† yang tidak¬† menolak¬† adanya¬† campur¬† tangan¬† pihak¬† lain¬† diancam¬† dengan pidana¬†¬† penjara 2¬† tahun¬†¬† dan¬†¬† paling¬†¬† lama 5¬† tahun¬†¬† serta¬†¬† denda sekurang‚Äźkurangnya¬† Rp.2¬† miliar¬† dan¬† paling¬† banyak¬† Rp.¬† 5¬† miliar¬† (Psl. 68).

Badan    yang    tidak    memenuhi    kewajiban    untuk    memberikan keterangan   dan/atau   data   yang   diperlukan   dalam   kegiatan   survei diancam  pidana  denda  paling  banyak  Rp.  50  juta  (Psl.  69).

Pelanggaran¬†¬† terhadap¬†¬† larangan¬†¬† pembelian¬†¬† surat¬†¬† utang¬†¬† negara¬†¬† di pasar¬† primer¬† diancam¬† dengan¬† pidana¬† penjara¬† penjara¬†¬† 1¬† tahun¬† dan paling¬† lama¬†¬† 3¬† tahun¬† serta¬† denda¬† sekurang‚Äźkurangnya¬† Rp.¬†¬† 6¬† miliar dan¬† paling¬† banyak¬† Rp.¬† 15¬† miliar¬† (Psl.¬† 70).

Pelanggaran¬†¬† rahasia¬†¬† jabatan¬†¬† yang¬†¬† dilakukan¬† ¬†oleh¬†¬† anggota¬†¬† Dewan Gubernur,¬† pegawai¬† Bank¬† Indonesia¬† serta¬† pihak¬† lain¬† yang¬† melakukan pekerjaan¬† tertentu¬† dari¬† Bank¬† Indonesia¬† diancam¬† pidana¬† penjara¬†¬† 1 tahun¬† dan¬† paling¬† lama¬† 3¬† tahun¬† serta¬† denda¬† sekurang‚Äźkurangnya¬† Rp.¬† 1 miliar¬† dan¬† paling¬† banyak¬† Rp.¬† 3¬† miliar.¬† Apabila¬† pelanggaran¬† tersebut dilakukan¬† oleh¬† badan,¬† diancam¬† pidana¬† denda¬† sekurang‚Äźkurangnya Rp.¬† 3¬† miliar¬† dan¬† paling¬† banyak¬† Rp.¬† 6¬† miliar¬† (Psl.¬† 71).

Disamping¬† ketentuan¬† pidana,¬† Dewan¬† Gubernur¬† dapat¬† menetapkan sanksi¬† administratif¬† kepada¬† pegawai¬† Bank¬† Indonesia¬† serta¬† pihak¬† lain yang¬†¬† tidak¬†¬† memenuhi¬†¬† kewajiban¬†¬† yang¬†¬† ditentukan¬†¬† UU‚ÄźBI.¬†¬† Bentuk sanksi¬† administratif¬† tersebut¬† dapat¬† berupa¬† denda,¬† teguran¬† tertulis, pencabutan¬† atau¬† pembatalan¬† izin¬† usaha¬† serta¬† sanksi¬† disiplin¬† pegawai (Psl.¬† 72).

VIII. Lain-Lain

1.       Pengalihan  Kredit  Program

Sesuai¬† dengan¬† konsep¬† yang¬† dianut¬† dalam¬† UU‚ÄźBI¬† dimana¬† suatu¬† bank sentral¬† yang¬† independen¬† harus¬† mempunyai¬† tugas¬† yang¬† fokus¬† yaitu memelihara¬† kestabilan¬† nilai¬† rupiah,¬†¬† maka¬† tugas¬†¬† pengadaan¬† kredit program¬†¬† yang¬†¬† selama¬†¬† ini¬†¬† dilakukan¬†¬† oleh¬†¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† akan dialihkan¬† kepada¬† BUMN¬† yang¬† ditunjuk¬† Pemerintah¬† dalam¬† jangka waktu¬†¬† 6¬† bulan¬† sejak¬† berlakunya¬† UU‚ÄźBI.¬† BUMN¬† tersebut¬† mengelola hasil¬† angsuran¬† dan/atau¬† pelunasan¬† pokok¬† dan¬† bunga¬† kredit¬† likuiditas sampai¬† dengan¬† berakhirnya¬† jangka¬† waktu¬† kredit¬† likuiditas¬† tersebut. Subsidi¬† bunga¬† kredit¬† likuiditas¬† yang¬† selama¬† ini¬† menjadi¬† beban¬† Bank Indonesia¬† menjadi¬† beban¬† Pemerintah¬† (Psl.¬† 74).

2.               Pembatasan  Penyertaan  Modal

Sejalan¬† dengan¬† penetapan¬† single¬† objective¬† Bank¬† Indonesia¬† serta¬† agar dalam¬†¬† pelaksanaan¬†¬† tugasnya¬†¬† Bank¬†¬† Indonesia¬†¬† lebih¬†¬† menfokuskan pada¬† tujuan¬† yang¬† harus¬† dicapai,¬† dalam¬† UU‚ÄźBI¬† ditetapkan¬† mengenai pembatasan¬† penyertaan¬† modal¬† hanya¬† pada¬† badan¬† hukum¬† atau¬† badan lainnya¬†¬† yang¬†¬† sangat¬†¬† diperlukan¬†¬† dalam¬†¬† pelaksanaan¬†¬† tugas¬†¬† Bank Indonesia¬† seperti¬† lembaga¬† kliring,¬† badan¬† pemeringkat¬† dan¬† lembaga penjamin¬† simpanan.

Kegiatan  penyertaan  modal  pada  badan  hukum  atau  badan  lainnya ini   harus   mendapat   persetujuan   dari   Dewan   Perwakilan   Rakyat. Dana  yang  digunakan  untuk  penyertaan  ini  hanya  dapat  diambil  dari cadangan  tujuan  (Psl.  64).

3.               Ketentuan  Divestasi

Dalam¬† jangka¬† waktu¬† paling¬† lama¬† 2¬† tahun¬† sejak¬† UU‚ÄźBI¬† berlaku,¬† Bank Indonesia¬†¬† wajib¬†¬† melepaskan¬†¬† seluruh¬†¬† penyertaannya¬†¬† pada¬†¬† badan hukum¬†¬† atau¬†¬† badan¬†¬† lainnya¬†¬† yang¬†¬† tidak¬†¬† memenuhi¬†¬† persyaratan ‚Äúsangat¬† diperlukan¬† dalam¬† pelaksanaan¬† tugas¬† Bank¬† Indonesia‚Ä̬† (Psl. 77).

dokumen makalah
Manajemen perbankan Syariah
Program Diploma III Fakultas Ekonomi
Universitas Sriwijaya