Posts Tagged ‘islam’

Pendahuluan

‚ÄúKu kira coklat, nggak taunya broklat, perutku jadi kacau berat, nggak! nggak momo lagi‚ÄĚ. Demikian sebuah pernyataan yang diperankan oleh seorang anak bertubuh¬† tambun dalamsebuah iklan kudapan coklat bermerk ‚ÄúGery Toya-Toya‚ÄĚ produksi Garuda Food, yang ditampilkan dalam iklan di berbagai televisi nasional. Sekilas iklan tersebut biasa saja, namun sesungguhnya memuat¬† pesan yang menyerang pesaingnya bernama ‚ÄĚMomogi‚Ä̬† kudapan¬† buatan¬† perusahaan¬† lain. Dilain¬† pihak¬† beberapa¬† iklan¬† di¬† televisi menampilkan produk toiletris seperti sabun mandi, atau perawatan kulit, yang secara sengaja mengumbar kulit mulus wanita cantik, atau kita juga disuguhkan oleh iklan obat sekali minum¬† sembuh,¬† padahal¬† proses¬† penyembuhan¬† penyakit¬† tidak¬† sesederhana¬† itu.

Tayangan sinetron di televisi nasional juga tidak lepas dari kritik penonton, demi rating sebagian besar televisi menyiarkan film-film berbau sex, kekerasan, mistik, horor, dan menampilkan  kemewahan  ekonomi yang  sesungguhnya  bukan  merupakan  kondisi riil masyarakat kita. Apa yang dibahas di atas merupakan gambaran betapa sebagian orang atau organisasi melakukan berbagai cara untuk menjual produknya baik dengan cara menyerang pesaingnya, mengumbar aurat atau melakukan kebohongan publik. Apakah bisnis merupakan profesi etis? Atau sebaliknya ia menjadi profesi kotor? Kalau profesi kotor penuh tipu menipu, mengapa begitu banyak orang yang menekuninya bahkan bangga dengan itu? Lalu kalau ini profesi kotor betapa mengerikan masyarakat modern ini yang didominasi oleh kegiatan bisnis ini (Sony Keraf:2000).

Bisnis  modern  merupakan  realitas  yang  amat  kompleks.  Banyak  faktor  turut mempengaruhi  dan  menentukan  kegiatan  bisnis.  Antara  lain  faktor  organisatoris manajerial, ilmiah teknologis, dan politik-sosial-kultural, Kompleksitas bisnis itu kegiatan sosial, bisnis dengan kompleksitas masyarakat modern sekarang. Sebagai kegiatan sosial, bisnis dengan banyak cara terjalin dengan kompleksitas masyarakat modern itu. Semua faktor yang membentuk kompleksitas bisnis modern sudah sering dipahami dan di analisis melalui pendekatan ilmiah, khususnya ilmu ekonomi dan teori manajemen (K. Bertens: 2000)

Etika bisnis

Etika sebagai praktis berarti : nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktikan atau
justru tidak dipraktikan, walaupun seharusnya dipraktikkan. Etika sebagai refleksi adalah
pemikiran moral. Dalam etika sebagai refleksi kita berfikir tentang apa yang dilakukan dan
khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Secara filosofi
etika memiliki arti yang luas sebagai pengkajian moralitas. Terdapat tiga bidang dengan
fungsi dan perwujudannya yaitu etika deskriptif (descriptive ethics), dalam konteks ini
secara  normatif  menjelaskan  pengalaman  moral  secara  deskriptif  berusaha  untuk
mengetahui motivasi, kemauan dan tujuan sesuatu tindakan dalam tingkah laku manusia.
Kedua, etika normatif (normative ethics), ), yang berusaha menjelaskan mengapa manusia
bertindak  seperti  yang  mereka  lakukan,  dan  apakah  prinsip-prinsip  dari  kehidupan
manusia. Ketiga, metaetika (metaethics), yang berusaha untuk memberikan arti istilah dan
bahasa yang dipakai dalam pembicaraan etika, serta cara berfikir yang dipakai untuk
membenarkan  pernyataan-pernyataan  etika.  Metaetika  mempertanyakan  makna  yang
dikandung    oleh    istilah-istilah kesusilaan yang    dipakai    untuk    membuat tanggapan-tanggapan kesusilaan (Bambang Rudito dan Melia Famiola: 2007)

Apa  yang  mendasari  para  pengambil  keputusan  yang  berperan  untuk  pengambilan
keputusan yang tak pantas dalam bekerja? Para manajer menunjuk pada tingkah laku dari
atasan-atasan mereka dan sifat alami kebijakan organisasi mengenai pelanggaran etika atau
moral. Karenanya kita berasumsi bahwa suatu organisasi etis, merasa terikat dan dapat
mendirikan beberapa struktur yang memeriksa prosedur untuk mendorong oraganisasi ke
arah etika dan moral bisnis. Organisasi memiliki kode-kode sebagai alat etika perusahaan
secara umum. Tetapi timbul pertanyaan: dapatkah suatu organisasi mendorong tingkah
laku  etis  pada  pihak  manajerial-manajerial  pembuat  keputusan? (Laura  Pincus hartman:1998)

Alasan  mengejar  keuntungan,  atau  lebih  tepat,  keuntungan  adalah  hal  pokok  bagi
kelangsungan bisnis merupakan alasan utama bagi setiap perusahaan untuk berprilaku tidak etis. Dari sudut pandang etika, keuntungan bukanlah hal yang buruk, bahkan secara
moral keuntungan merupakan hal yang baik dan diterima. Karena pertama, secara moral
keuntungan  memungkinkan  perusahaan  bertahan (survive)  dalam  kegiatan  bisnisnya, Kedua,  tanpa  memperoleh  keuntungan  tidak  ada  pemilik  modal  yang  bersedia menanamkan modalnya, dan karena itu berarti tidak akan terjadi aktivitas ekonomi yang produktif  dalam  memacu  pertumbuhan  ekonomi.  Ketiga,  keuntungan  tidak  hanya memungkinkan perusahaan survive melainkan dapat menghidupi karyawannya ke arah tingkat hidup yang lebih baik. Keuntungan dapat dipergunakan sebagai pengembangan (expansi) perusahaan sehingga hal ini akan membuka lapangan kerja baru.

Dalam  mitos  bisnis  amoral  diatas  sering  dibayangkan  bisnis  sebagai  sebuah  medan pertempuran. Terjun ke dunia bisnis berarti siap untuk betempur habis-habisan dengan sasaran  akhir  yakni  meraih  keuntungan,  bahkan  keuntungan  sebesar-besarnya  secara konstan. Ini lebih berlaku lagi dalam bisnis global yang mengandalkan persaingan ketat. Pertanyaan yang harus dijawab adalah, apakah tujuan keuntungan yang dipertaruhkan dalam bisnis itu bertentangan dengan etika? Atau sebaliknya apakah etika bertentangan dengan tujuan bisnis mencari keuntungan? Masih relevankah kita bicara mengenai etika bagi bisnis yang memiliki sasaran akhir memperoleh keuntungannya?

Dalam  mitos  bisnis  modern  para  pelaku  bisnis  dituntut  untuk  menjadi  orang-orang
profesional di bidangnya. Mereka memiliki keterampilan dan keahlian bisnis melebihi orang
kebanyakan, ia harus mampu untuk memperlihatkan kinerja yang berada diatas rata-rata
kinerja pelaku bisnis amatir. Yang menarik kinerja ini tidak hanya menyangkut aspek
bisnis, manajerial, dan organisasi teknis semata melainkan juga menyangkut aspek etis.
Kinerja yang menjadi prasarat  keberhasilan bisnis juga menyangkut  komitmen moral,
integritas moral, disiplin, loyalitas, kesatuan visi moral, pelayanan, sikap mengutamakan
mutu, penghargaan terhadap hak dan kepentingan pihak-pihak terkait yang berkepentingan
(stakeholders), yang lama kelamaan akan berkembang menjadi sebuah etos bisnis dalam
sebuah perusahaan. Perilaku Rasulullah SAW yang jujur transparan dan pemurah dalam
melakukan praktik bisnis merupakan kunci keberhasilannya mengelola bisnis Khodijah ra,
merupakan contoh kongkrit tentang moral dan etika dalam bisnis.

Dalam teori Kontrak Sosial membagi tiga aktivitas bisnis yang terintegrasi. Pertama adalah Hypernorms yang berlaku secara universal yakni ; kebebasan pribadi, keamanan fisik & kesejahteraan, partisipasi politik, persetujuan yang diinformasikan, kepemilikan atas harta, hak-hak  untuk penghidupan,  martabat  yang sama  atas masing-masing orang/manusia. Kedua, Kontrak Sosial Makro, landasan dasar global adalah; ruang kosong untuk muatan moral, persetujuan cuma-cuma dan hak-hak untuk diberi jalan keluar, kompatibel dengan hypernorms,  prioritas  terhadap  aturan  main.  Ketiga,  Kontrak  Sosial  Mikro,  sebagai landasan  dasar  komunitas;  tidak  berdusta  dalam  melakukan  negosiasi-negosiasi, menghormati  semua  kontrak,  memberi  kesempatan  dalam  merekrut  pegawai  bagi penduduk lokal, memberi preferensi kontrak para penyalur lokal, menyediakan tempat kerja yang aman (David J Frizsche: 1997)

Dalam semua hubungan, kepercayaan adalah unsur dasar. Kepercayaan diciptakan dari
kejujuran. Kejujuran adalah satu kualitas yang paling sulit dari karakter untuk dicapai
didalam bisnis, keluarga, atau dimanapun gelanggang tempat orang-orang berminat untuk
melakukan persaingan dengan pihak-pihak lain. Selagi kita muda kita diajarkan, di dalam
tiap-tiap kasus ada kebajikan atau hikmah yang terbaik. Kebanyakan dari kita didalam
bisnis mempunyai satu misi yang terkait dengan rencana-rencana. Kita mengarahkan energi
dan  sumber  daya  kita  ke  arah  tujuan  keberhasilan  misi  kita  yang  kita  kembangkan
sepanjang  perjanjian-perjanjian.  Para  pemberi  kerja  tergantung  pada  karyawan,  para
pelanggan tergantung pada para penyalur, bank-bank tergantung pada peminjam dan pada
setiap pelaku atau para pihak sekarang tergantung pada para pihak terdahulu dan ini akan
berlangsung secara terus menerus. Oleh karena itu kita menemukan bahwa bisnis yang
berhasil dalam masa yang panjang akan cenderung untuk membangun semua hubungan
atas mutu, kejujuran dan kepercayaan (Richard Lancaster dalam David Stewart: 1996)

Etika Bisnis Islami

Etika bisnis lahir di Amerika pada tahun 1970 an kemudian meluas ke Eropa tahun 1980
an dan menjadi fenomena global di tahun 1990 an jika sebelumnya hanya para teolog dan
agamawan yang membicarakan masalah-masalah moral dari bisnis, sejumlah filsuf mulai
terlibat dalam memikirkan masalah-masalah etis disekitar bisnis, dan etika bisnis dianggap sebagai suatu tanggapan tepat atas krisis moral yang meliputi dunia bisnis di Amerika
Serikat,  akan  tetapi  ironisnya  justru  negara  Amerika  yang  paling  gigih  menolak
kesepakatan Bali pada pertemuan negara-negara dunia tahun 2007 di Bali. Ketika sebagian
besar negara-negara peserta mempermasalahkan etika industri negara-negara maju yang
menjadi sumber penyebab global warming agar dibatasi, Amerika menolaknya.

Jika  kita  menelusuri sejarah,  dalam agama  Islam tampak  pandangan positif terhadap
perdagangan dan kegiatan ekonomis. Nabi Muhammad SAW adalah seorang pedagang,
dan agama  Islam disebarluaskan terutama  melalui para  pedagang  muslim.  Dalam Al
Qur’an  terdapat  peringatan  terhadap  penyalahgunaan  kekayaan,  tetapi  tidak  dilarang
mencari kekayaan dengan cara halal (QS: 2;275) ‚ÄĚAllah telah menghalalkan perdagangan
dan melarang riba‚ÄĚ. Islam menempatkan aktivitas perdagangan dalam posisi yang amat
strategis di tengah kegiatan manusia mencari rezeki dan penghidupan. Hal ini dapat dilihat
pada sabda Rasulullah SAW: ‚ÄĚPerhatikan oleh mu sekalian perdagangan, sesungguhnya di
dunia perdagangan itu ada sembilan dari sepuluh pintu rezeki‚ÄĚ. Dawam Rahardjo justru
mencurigai tesis Weber tentang etika Protestantisme, yang menyitir kegiatan bisnis sebagai
tanggungjawab manusia terhadap Tuhan mengutipnya dari ajaran Islam. Kunci etis dan moral bisnis sesungguhnya terletak pada pelakunya, itu sebabnya misi  diutusnya Rasulullah ke dunia adalah untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah rusak. Seorang pengusaha muslim berkewajiban untuk memegang teguh etika dan moral bisnis Islami yang mencakup Husnul Khuluq. Pada derajat ini Allah akan melapangkan hatinya, dan akan membukakan pintu rezeki, dimana pintu rezeki akan terbuka dengan akhlak mulia tersebut, akhlak yang baik adalah modal dasar yang akan melahirkan praktik bisnis yang etis dan moralis.

Salah satu dari akhlak yang baik dalam bisnis Islam adalah kejujuran (QS:¬† Al¬† Ahzab;70-71).¬† Sebagian¬† dari¬† makna¬† kejujuran¬† adalah¬† seorang¬† pengusaha senantiasa¬† terbuka¬† dan¬† transparan¬† dalam jual belinya ‚ÄĚTetapkanlah¬† kejujuran¬† karena sesungguhnya¬† kejujuran¬† mengantarkan¬† kepada¬† kebaikan¬† dan¬† sesungguhnya¬† kebaikan mengantarkan¬† kepada¬† surga‚ÄĚ (Hadits).¬† Akhlak¬† yang¬† lain¬† adalah¬† amanah,¬† Islam menginginkan seorang pebisnis muslim mempunyai hati yang tanggap, dengan menjaganya dengan memenuhi hak-hak Allah dan manusia, serta menjaga muamalah nya dari unsur yang melampaui batas atau sia-sia. Seorang pebisnis muslim adalah sosok yang dapat dipercaya, sehingga ia tidak menzholimi kepercayaan yang diberikan kepadanya ‚ÄĚTidak ada iman bagi orang yang tidak punya amanat¬† (tidak dapat dipercaya), dan tidak ada agama¬† bagi¬† orang¬† yang¬† tidak¬† menepati¬† janji‚ÄĚ, ‚ÄĚpedagang¬† yang¬† jujur¬† dan¬† amanah (tempatnya di surga) bersama para nabi, Shiddiqin (orang yang jujur) dan para syuhada‚ÄĚ (Hadits).

Sifat toleran juga merupakan kunci sukses pebisnis muslim, toleran membuka
kunci rezeki dan sarana hidup tenang. Manfaat toleran adalah mempermudah pergaulan,
mempermudah urusan jual beli, dan mempercepat kembalinya modal ‚ÄĚAllah mengasihi
orang yang lapang dada dalam menjual, dalam membeli serta melunasi hutang‚ÄĚ (Hadits).
Konsekuen terhadap akad dan perjanjian merupakan kunci sukses yang lain dalam hal
apapun sesungguhnya Allah memerintah kita untuk hal itu¬† ‚ÄĚHai orang yang beriman penuhilah akad-akad itu‚ÄĚ (QS: Al- Maidah;1), ‚ÄĚDan penuhilah janji, sesungguhnya janji itu
pasti diminta pertanggungjawabannya‚Ä̬† (QS: Al Isra;34). Menepati janji mengeluarkan
orang dari kemunafikan sebagaimana sabda Rasulullah¬† ‚ÄĚTanda-tanda munafik itu tiga
perkara, ketika berbicara ia dusta, ketika sumpah ia mengingkari, ketika dipercaya ia
khianat‚ÄĚ (Hadits).

Aktivitas Bisnis yang Terlarang dalam Syariah

1.      Menghindari transaksi bisnis yang diharamkan agama Islam. Seorang muslim harus
komitmen dalam berinteraksi dengan hal-hal yang dihalalkan oleh Allah SWT. Seorang
pengusaha  muslim  tidak  boleh  melakukan  kegiatan  bisnis  dalam  hal-hal  yang
diharamkan  oleh  syariah.  Dan  seorang  pengusaha  muslim  dituntut  untuk  selalu
melakukan usaha yang mendatangkan kebaikan dan masyarakat. Bisnis, makanan tak
halal atau mengandung bahan tak halal, minuman keras, narkoba, pelacuran atau
semua yang berhubungan dengan dunia gemerlap seperti night  club discotic cafe
tempat  bercampurnya  laki-laki  dan  wanita  disertai  lagu-lagu  yang  menghentak,
suguhan minuman dan makanan tak halal dan lain-lain  (QS: Al-A’raf;32. QS: Al
Maidah;100) adalah kegiatan bisnis yang diharamkan.

2.      Menghindari cara memperoleh dan menggunakan harta secara tidak halal. Praktik riba
yang menyengsarakan agar dihindari, Islam melarang riba dengan ancaman berat (QS:
Al Baqarah;275-279), sementara transaksi spekulatif amat erat kaitannya dengan bisnis yang tidak transparan seperti perjudian, penipuan, melanggar amanah sehingga besar kemungkinan akan merugikan. Penimbunan harta agar mematikan fungsinya untuk dinikmati oleh orang lain serta mempersempit ruang usaha dan aktivitas ekonomi adalah perbuatan tercela dan mendapat ganjaran yang amat berat (QS:At Taubah; 34 –
35). Berlebihan dan menghamburkan uang untuk tujuan yang tidak bermanfaat dan berfoya-foya kesemuanya merupakan perbuatan yang melampaui batas. Kesemua sifat tersebut dilarang karena merupakan sifat yang tidak bijaksana dalam penggunaan harta dan bertentangan dengan perintah Allah (QS: Al a’raf;31)

3.      Persaingan yang tidak fair sangat dicela oleh Allah sebagaimana disebutkan dalam
Al-Qur‚Äôan surat Al Baqarah: 188: ‚ÄĚJanganlah kamu memakan sebagian harta sebagian kamu dengan cara yang batil‚ÄĚ. Monopoli juga termasuk persaingan yang tidak fair
Rasulullah mencela perbuatan tersebut : ‚ÄĚBarangsiapa yang melakukan monopoli maka
dia telah bersalah‚ÄĚ, ‚ÄĚSeorang tengkulak itu diberi rezeki oleh Allah adapun sesorang
yang¬† melakukan¬† monopoli¬† itu¬† dilaknat‚ÄĚ.¬† Monopoli¬† dilakukan¬† agar¬† memperoleh
penguasaan pasar dengan mencegah pelaku lain untuk menyainginya dengan berbagai
cara,  seringkali  dengan  cara-cara  yang  tidak  terpuji  tujuannya  adalah  untuk
memahalkan harga agar pengusaha tersebut mendapat keuntungan yang sangat besar.
Rasulullah bersabda : ‚ÄĚSeseorang yang sengaja melakukan sesuatu untuk memahalkan
harga, niscaya Allah akan menjanjikan kepada singgasana yang terbuat dari api neraka
kelak di hari kiamat‚ÄĚ.

4.      Pemalsuan dan penipuan, Islam sangat melarang memalsu dan menipu karena dapat
menyebabkan  kerugian,  kezaliman,  serta  dapat  menimbulkan  permusuhan  dan
percekcokan. Allah berfirman dalam QS:Al-Isra;35:¬† ‚ÄĚDan sempurnakanlah takaran
ketika kamu menakar dan timbanglah dengan neraca yang benar‚ÄĚ. Nabi bersabda
‚ÄĚApabila kamu menjual maka jangan menipu orang dengan kata-kata manis‚ÄĚ.
Dalam bisnis  modern  paling  tidak  kita  menyaksikan  cara-cara  tidak  terpuji yang
dilakukan sebagian pebisnis dalam melakukan penawaran produknya, yang dilarang
dalam ajaran Islam. Berbagai bentuk penawaran  (promosi) yang dilarang tersebut
dapat dikelompokkan sebagai berikut :

a.      Penawaran dan pengakuan  (testimoni) fiktif, bentuk penawaran yang dilakukan
oleh penjual seolah barang dagangannya ditawar banyak pembeli, atau seorang
artis yang memberikan testimoni keunggulan suatu produk padahal ia sendiri tidak
mengonsumsinya.

b.      Iklan yang tidak sesuai dengan kenyataan, berbagai iklan yang sering kita saksikan
di media televisi, atau dipajang di media cetak, media indoor maupun outdoor,
atau kita dengarkan lewat radio seringkali memberikan keterangan palsu.

c.       Eksploitasi wanita, produk-produk seperti, kosmetika, perawatan tubuh, maupun
produk  lainnya  seringkali  melakukan  eksploitasi  tubuh  wanita  agar  iklannya
dianggap  menarik.  Atau  dalam  suatu  pameran  banyak  perusahaan  yang
menggunakan wanita berpakaian minim menjadi penjaga stand pameran produk
mereka    dan  menugaskan  wanita  tersebut  merayu  pembeli  agar  melakukan
pembelian terhadap produk mereka.

Eksploitasi wanita, produk-produk seperti, kosmetika, perawatan tubuh, maupun
produk  lainnya  seringkali  melakukan  eksploitasi  tubuh  wanita  agar  iklannya
dianggap  menarik.  Atau  dalam  suatu  pameran  banyak  perusahaan  yang
menggunakan wanita berpakaian minim menjadi penjaga stand pameran produk
mereka    dan  menugaskan  wanita  tersebut  merayu  pembeli  agar  melakukan
pembelian terhadap produk mereka

Etika Pemasaran

Dalam konteks etika pemasaran yang bernuansa Islami, dapat dicari pertimbangan dalam Al-Qur’an. Al-Qur’an memberikan dua persyaratan dalam proses bisnis yakni persyaratan
horizontal (kemanusiaan)¬†¬† dan¬† persyaratan¬† vertikal (spritual).¬†¬† Surat¬†¬† Al-Baqarah menyebutkan¬† ‚ÄĚKitab¬† (Al-Qur‚Äôan)¬† ini¬† tidak¬† ada¬† yang¬† diragukan¬† didalamnya.¬† Menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa‚ÄĚ. Ayat ini dapat dijadikan sebagai pedoman dalam etika marketing :

1.      Allah  memberi  jaminan  terhadap  kebenaran  Al-Qur’an,  sebagai  reability  product
Guarantee.

2.      Allah menjelaskan manfaat Al-Qur’an sebagai produk karyaNya, yakni menjadi hudan
(petunjuk)

3.       Allah menjelaskan objek, sasaran, customer, sekaligus target penggunaan kitab suci
tersebut, yakni orang-orang yang bertakwa.

Isyarat¬† diatas¬† sangat¬† relevan¬† dipedomani¬† dalam¬† melakukan¬† proses¬† marketing,¬† sebab marketing merupakan bagian yang sangat penting dan menjadi mesin suatu perusahaan. Mengambil petunjuk dari kalimat ‚ÄĚjaminan‚ÄĚ yang dijelaskan Allah dalam Al-Qur‚Äôan, maka dalam rangka penjualan itupun kita harus dapat memberikan jaminan bagi produk yang kita miliki. Jaminan tersebut mencakup dua aspek:

  • Aspek material, yakni mutu bahan, mutu pengobatan, dan mutu penyajian
  • Aspek non material, mencakup; ke-Halalan, ke-Thaharahan (Higienis), dan ke-Islaman
    dalam penyajian.

Bahwa jaminan terhadap kebaikan makanan itu baru sebagian dari jaminan yang perlu
diberikan,  disamping  ke-Islaman  sebagai  proses  pengolahan  dan  penyajian,  serta
ke-Halalan, ke-Thaharahan. Jadi totalitas dari keseluruhan pekerjaan dan semua bidang
kerja yang ditangani di dalam dan di luar perusahaan merupakan integritas dari ‚ÄĚjaminan‚ÄĚ.
Urutan kedua yang dijelaskan Allah adalah manfaat dari apa yang dipasarkan. Jika ini
dijadikan dasar dalam upaya marketing, maka yang perlu dilakukan adalah memberikan
penjelasan¬† mengenai¬† manfaat¬† produk (ingridients)¬† atau¬† manfaat¬† proses¬† produksi dijalankan.¬† Adapun¬† metode¬† yang¬† dapat¬† digunakan¬†¬†¬† petunjuk¬† Allah: ‚ÄĚBeritahukanlah kepadaku (berdasarkan¬† pengetahuan)¬† jika¬† kamu¬† memang¬† orang-orang¬† yang¬† benar‚ÄĚ. (QS:Al-An‚Äôam;143). Ayat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa untuk meyakinkan seseorang terhadap kebaikan yang kita jelaskan haruslah berdasarkan ilmu pengetahuan, data dan fakta. Jadi dalam menjelaskan manfaat produk, nampaknya peranan data dan fakta sangat penting, bahkan seringkali data dan fakta jauh lebih berpengaruh dibanding penjelasan.¬†¬† Sebagaimana¬†¬† orang¬†¬† yang¬†¬† sedang¬†¬† dalam¬† program¬† diet¬†¬† sering¬†¬† kali. memperhatikan komposisi informasi gizi yang¬†¬† terkandung dalam kemasan makanan yang akan dibelinya.

Ketiga adalah penjelasan mengenai sasaran atau customer dari produk yang kita miliki.
Dalam hal ini kita  dapat  menjelaskan  bahwa  makanan  yang  halal dan  baik (halalan thoyyiban), yang akan menjadi darah dan daging manusia, akan membuat kita menjadi taat kepada Allah, sebab konsumsi yang dapat mengantarkan manusia kepada ketakwaan harus memenuhi tiga unsur :

1.      Materi yang halal

2.      Proses pengolahan yang bersih (Higienis)

3.      Penyajian yang Islami

Etika Marketing dapat dijabarkan dalam diagram berikut :

Perusahaan Menjual

Al Qur’an

AL Hadits

Menjelaskan

Kegunaan

Produksi

Menjamin

Kriteria Penggunaan

Konsumen Sehat, cerdas, Muttaqin

Sumber : Islamic Business Strategy for Entrepreneurship, Tim Multitama Communication, 2007

Dalam proses  pemasaran  promosi merupakan  bagian  penting,  promosi adalah  upaya
menawarkan barang dagangan kepada calon pembeli. Bagaimana seseorang sebaiknya
mempromosikan barang dagangannya? Selain sebagai Nabi Rasulullah memberikan teknik
sales promotion yang jitu kepada seorang pedagang. Dalam suatu kesempatan beliau
mendapati seseorang sedang menawarkan barang  dagangannya.  Dilihatnya ada    yang
janggal¬† pada¬† diri¬† orang¬† tersebut.¬† Beliau¬† kemudian¬† memberikan¬† advis¬† kepadanya : ‚ÄĚRasulullah lewat di depan sesorang yang sedang menawarkan baju dagangannya. Orang tersebut jangkung sedang baju yang ditawarkan pendek. Kemudian Rasululllah berkata; ‚ÄĚDuduklah!¬† Sesungguhnya¬† kamu¬† menawarkan¬† dengan¬† duduk¬† itu¬† lebih¬† mudah mendatangkan rezeki.‚ÄĚ (Hadits).

Dengan demikian promosi harus dilakukan dengan cara yang tepat, sehingga menarik
minat calon pembeli. Faktor tempat dan cara penyajian serta teknik untuk menawarkan
produk dilakukan dengan cara yang menarik. Faktor tempat meliputi desain interior yang
serasi  yang  serasi,  letak  barang  yang  mudah  dilihat,  teratur,  rapi  dan  sebagainya.
Memperhatikan hadits Rasulullah diatas sikap seorang penjual juga merupakan faktor yang
harus diperhatikan bagi keberhasilan penjualan. Selain faktor tempat, desain interior, letak
barang dan lain-lain. Kita bisa mengambil kesimpulan bahwa dalam Islam posisi pebisnis pada dasarnya adalah profesi yang terpuji dan mendapat posisi yang tinggi sepanjang ia mengikuti koridor syari‚Äôah. Muamalah dalam bentuk apapun diperbolehkan sepanjang ia tidak melanggar dalil syar‚Äôi. Islam melarang seorang Muslim melakukan hal yang merugikan dan mengakibatkan kerusakan bagi orang lain sebagaimana disebutkan dalam haditsnya. Rasululllah bersabda : ‚ÄĚLa dlaraara wala dliraara‚ÄĚ (HR. Ibn Abbas).

Manajemen Perbankan Syariah
Program Diploma III Fakultas Ekonomi
Universitas Sriwijaya *08

Pemasaran adalah salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam peningkatan kepercayaan konsumen. Salah satu aspek ini memang perlu diperhatikan untuk meningkatkan minat dan konsumen. Pemasaran dalam bank syariah bukan hal yang bisa dianggap sepele. Dan para pengelola bank juga tidak tinggal diam. Tentu sudah banyak hal yang dilakukan untuk mendobrak kinerja pemasaran sebuah bank syariah.

Bermacam-macam program dengan berbagai nama tentu juga sudah dilakukan oleh bank syariah. Pemasaran umumnya langsung pada takaran produk tertentu yang dimiliki oleh bank syariah. Berbeda-beda. Misalnya sebuah bank ada yang mempunyai layanan kredit perumahan syariah, deposito syariah dan lain sebagainya. Produk-produk atau layanan bank syariah di Indonesia umumnya telah dilaksanakan melalui berbagai program atau media. Mulai dari pamflet, iklan, buletin gratis hingga mengikuti pameran-pameran mengenai perbankan syariah. Intinya, program-program atau strategi pemasaran dilakukan langsung pada sebuah aktivitas untuk menawarkan produk yang spesifik dari sebuah bank.

Jika menilik lebih lanjut konsep pemasaran, maka sejatinya banyak sekali filosofi yang bisa diambil dan diterapkan menjadi sebuah strategi pemasaran. Salah satu diantaranya ada konsep pemasaran mengenai 4 P. Jadi strategi pemasaran harus memperhatikan empat aspek yakni place (tempat), product (produk), price (harga) dan promotion (promosi). Dan yang paling mendasar tentu saja konsep pemasaran pada intinya mengenai STP (segmentation, targetting dan positioning). Ada sebuah konsepsi atau filosofi lain yang bisa diambil dari ilmu pemasaran. Hal ini bisa dibilang kadang terlupakan dari sebuah strategi pemasaran. Yakni bahwa pemasaran itu membutuhkan sebuah sosialisasi yang bagus mengenai arti dasar atau konsep dasar produk. Agar konsumen mengetahui betul tidak melulu masalah teknis operasional layanan produk itu seperti apa. Tetapi juga mengetahui maksud, tujuan dan mungkin jika dikaitkan langsung dengan produk bank syariah; yakni dalil agama islam mengenai produk yang syariah itu seperti apa. Dengan satu kata sebuah bahasa sederhana, strategi pemasaran yang perlu digarap lebih serius pada bank syariah yakni aktivitas edukasi.

Pada bahasan ini, memang hanya akan mencoba mengkritisi salah satu aspek kecil saja mengenai bank syariah dalam hal pemasaran. Yakni pentingnya edukasi. Edukasi atau bisa diartikan sebuah aktivitas untuk mendidik atau memberikan pemahaman mengenai sesuatu hal. Edukasi yang dimaksudkan bukan untuk menyoroti bagaimana konsumen, atau yang lebih spesifik adalah calon nasabah, diberi pengertian dan mengerti betul mengenai produk layanan sebuah bank syariah. Akan tetapi diberi edukasi mengenai seperti apa produk atau layanan perbankan yang syariah. Yang benar-benar halal, dikuatkan dengan landasan dalil-dalil dalam Al Qur’an dan Hadits.

Pemasaran adalah sebuah awal dari diterimanya produk oleh konsumen. Sehingga aspek ini patut diperhatikan dan diberikan solusi yang optimal. Jika berpijak pada tujuan untuk meningkatkan konsumen layanan bank syariah yang beberapa pihak mengatakan masih kurang optimal, maka aspek pemasaran tidak bisa diabaikan begitu saja. Tentu saja dengan asumsi bahwa pengelolaan atau manajemen internal sebuah bank syariah khususnya berkaitan dengan produk yang berbasis syariah telah matang. Pentingnya edukasi mengenai produk syariah dalam kaitannya dengan aspek pemasaran diperlukan karena melihat kenyataan bahwa sudah banyak bank di Indonesia yang mempunyai layanan berbasiskan syariah. Bahkan pengelolaan bank syariahnya telah terpisah dari layanan bank konvensional. Pentingnya edukasi produk berbasiskan syariah, karena bisa dibilang bahwa layanan produk berbasis syariah bukan merupakan sesuatu yang telah berlangsung lama semenjak produk perbankan dikenal masyarakat luas. Produk perbankan yang jauh lebih dahulu dikenal dan sampai sekarang sudah teredukasi adalah produk perbankan konvensional. Selepas masa krisis tahun 98, baru bisa dibilang produk perbankan berbasis syariah terus bertambah. Selain itu dengan landasan melihat Indonesia sebagai sebuah negara yang penuh perbedaan, dalam hal ini adalah agama, maka boleh dikatakan cikal-bakal produk perbankan syariah muncul dari sebuah golongan saja. Yakni agama islam. Walaupun pada kenyataannya produk perbankan syariah bukan hanya milik konsumsi satu golongan saja. Tetapi seluruh masyarakat Indonesia.

Maksud dari konsepsi edukasi produk berbasiskan syariah di aspek pemasaran bank syariah, juga untuk menghindari beberapa hal yang kadang dikeluhkan oleh konsumen bank syariah. Ada dua hal utama yang ingin dikritisi dalam tulisan ini. Pertama, mengenai akad atau perjanjian. Sepertinya belum semua bank syariah menjelaskan konsep akad ketika seorang nasabah baru katakanlah akan menabung. Akad atau perjanjian adalah sesuatu yang harus terjadi. Baik lisan dan tulisan. Terkadang beberapa bank masih belum sepenuhnya menerapkan akad dengan baik. Salah satu contoh ada seorang nasabah yang terkadang mengeluhkan setelah sekian lama menabung mengenai biaya administrasi tabungan. Di awal akad menabung, bisa jadi petugas belum menjelaskan atau memang sistem belum tertata dengan baik sehingga mengakibatkan konsumen agak dirugikan. Karena tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu secara resmi dari bank misalnya ketika bank menaikkan biaya administrasi tabungan per bulan dari tiap nasabah. Padahal akad atau pernjanjian kespekatan mengenai transaksi dalam konsep syariah sangat diperhatikan. Kedua, mengenai transparansi laporan keuangan. Hal ini perlu dijelaskan pada strategi edukasi produk berbasiakan syariah. Harus seperti apa transparansi laporan keuangan sebuah bank syariah menurut kaidah syariah yang benar. Apakah setiap nasabah harus dikirimi pemberitahuan resmi setiap bulannya, atau sekadar bank mem-publish laporan keuangan di sebuah media massa.

Strategi pemasaran mengenai edukasi produk berbasiskan syariah bisa dikerucutkan menjadi sebuah tindakan operasional atau teknis. Usulan mengenai edukasi antara lain dengan cara membuat sebuah seminar atau workshop gratis yang menjelaskan konsep produk berbasiskan syariah. Sekali lagi bukan mengenai produk spesifik sebuah bank syariah. Tetapi bank syariah menjelaskan atau mensosialisasikan kepada masyarakat arti filosofi sebuah produk berbasiskan syariah. Pembicara bukan berasal dari pihak bank saja, tetapi ada pembading lain misalnya dari sudut agama islam dari seorang ulama. Diharapkan dari edukasi ini, masyarakat lebih terdidik terlebih dahulu dan merasa respect terhadap produk-produk bank syariah. Lebih merasa sreg dan cocok dengan produk tersebut. Jadi bukan melulu tiba-tiba seorang nasabah datang ke bank syariah dan tidak dibeberkan apa itu nisbah, mudharabah dan lain sebagainya. Padahal kenyataan di masyarakat, tidak semua lapisan masyarakat bisa mengakses informasi mengenai produk perbankan syariah dan mengerti akan hal itu. Edukasi untuk memberikan pemahaman mengenai konsep produk berbasiskan murni syariah juga perlu diperhatikan. Jika memang segmen konsumen sebuah bank syariah adalah seluruh lapisan masyarakat Indonesia, maka perlu diperhatikan tidak semua lapisan masyarakat bisa mengakses informasi dengan lancar. Sebagai contoh masyarakat di perkotaan, akan dengan mudah mencari di internet mengenai konsep produk berbasiskan syariah. Juga terkadang, ada beberapa orang yang menanyakan konsepsi produk syariah yang benar langsung ke seorang ulama karena keterbatasan akses infoemasi. Nah, tugas-tugas mendidik atau edukasi seperti ini sebetulnya layak dan bisa dilakukan oleh bank syariah itu sendiri. Tentu saja ekspektasinya, dengan adanya masyarakat yang teredukasi mengenai produk berbasiskan syariah maka tingkat awareness masyarakat akan bertambah dan nasabah atau konsumen meningkat.

dokumen makalah
Manajemen perbankan Syariah
Program Diploma III Fakultas Ekonomi
Universitas Sriwijaya

Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam

 

I. PEMIKIRAN EKONOMI ABU YUSUF

(113-182 H/731-798 M)

 

A.  Riwayat Hidup

Ya’qub bin Ibrahim bin Habib bin Khusnais bin Sa’ad Al-Ashari Al-Jalbi Al- Kufi Al-Bagdadi, atau yang lebih dikenal sebagai Abu Yusuf, lahir di kufa pada tahun 113 H (731 M) dan meninggal dunia di Baghdad pada tahun 182 H (798 M). Abu Yusuf meninba ilmu kepada banyak ulama besar.

Berkat berkat bibinga para gurunya serta di tunjang oleh ketekunan dan kecerdasanya, Abu Yusuf tunbuh sebagai alim ulama yang sangat dihormati oleh berbagai kalangan, baik ulama maupun penguasa masyarakat umum. Sekalipun disibukan dengan bebagai aktivitas mengjar dan birokrasi , Abu Yusuf masih meluangkan waktu untuk menunlis . Beberapa karya tulisnya adalah al- Jawami’, ar-Radd’ala Siyar al-Auza’i, al-Atsar, Ikhtilaf Abi Hanifah wa Ibn Abi Laila, Adad al-Qadhi, dan al-Kharaj.

B.  Kitab al-Kharaj

Salah satu karya Abu Yusuf yang sangat monumental adalah kitab al-Karaj (Buku tantang Perpajakan). Sekaliipun berjudul al-Karaj, kitab tersebut tidak hanya mengandung pembahasan tentang al-Karaj, melainkan juga meliputi brbagai sumber pendapatan negara. Seperti halnya kitab-kitab sejenis yang lahir pada lima abad pertama Hijriah,penekanan kitab karya Abu Yusuf ini terletak pada tanggung jawab penguasa terhadap kesejahteraan rakyatnya. Ia merupakan sebuah upaya membangun sebuah sistem keuangan yang mudah dilaksanakan sesui dengan hukum islam dalam kondisi yang selalu berubah dengan persyaratan ekonomi.

C.  Pemikiran Ekonomi

Dengan latar belakanng sebagai seaorang  fuqadha beraliran ahl ar-ra’yu, kakuatan utama pemikiran Abu Yusuf adalah dalam masalah keuangan publik. Dengan daya observasinya dan analisisnya yang tinggi, Abu Yusuf menguraikan masalah keuangan dan menunjukan beberapa kebijakan yang harus diadopsi bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

Selain dibidang keuangan publik, Abu Yusuf juga memberikan padanganya seputar mekanisme pasar dan harga, seperti bagaimana harga itu ditentukan dan apa dampak dari adanya berbagai jenis pajak. Dalam kedua hal terakhir tersebut , berdasarkan hasil observasinya sendiri, Abu Yusuf mengungkapkan teori yang justru berlawanan dengan teori dan asumsi yang berlaku dimasanya.

Negara dan Aktivitas Ekonomi

Dalam pandangan Abu Yusuf, tugas utama penguasa adalah mewujudakan serta menjamin kesejaahteraan rakyatnya. Ia selalu menekankan pentingnya memenuhi kebutuhan rakyat dan kesejahteraan umum.Ketika bebicara tentang pengdaan fasilitas infrastruktur, Abu Yusuf mengtakan bahwa negara bertanggung jawab untuk memenuhi agar dapat meningkatkan produktifitas tanah, kemakmuran rakyat serta peertumbuhan ekononomi.

II. PEMIKIRAN EKONOMI AL-SYAIBANI

(132 ‚Äď 189 H/750 ‚Äď 804)

A.  Riwayat Hidup

Abu Abdilah Muhammad bin Al-Hasan bin Farqad Al-Syaibani lahir pada tahun 132 H (750 M) di kota Wasith, ibu kota Irak pada akhir masa pemerintahan Bani Umawiyah.Ayahnya berasal dari negari Syaibani di wilayah jazirah Arab.Di kota tersebut ia belajar fiqih, sastra, bahasa, dan hadis kepada para ulama setempat, seperti Mus’ar bin Kadam, Syufan Tsauri,Umar bin Dzar, dan Malik bin Maghul.

Setalah memperoleh ilmu yang memadai, Al-Syaibani kembali ke Baghdad yang saat itu telah berada dalam kekuasaan Daulah Bani Abbasiyah. Di tempat ini ia mempunyai peranan penting dalam majelis ulama dan kerap didatangi ara penuntut ilmu. Namun tugas ini hanya berlangsung singkat karena ia kemudian mengundurkan diri untuk lebih berkonsentrasi pada pengajaran dan penulisan fiqih. Al-Syaibani meninggal dunia pada tahun 189 H (804 M) di kota al-Ray, daket Teheran, dalam usia 58 tahun.

B.  Karya-karya

  1. Zhahir al-Riwayah, yaitu ditulis berdasrkan pelajaran yang diberikan Abu Hanifah, seperti al-Mabsut, al-Jmi’ al-Kabir, al-Jami’ al-Shaghir, al-Syiar al-Kabir,al-Syiar al-Shaghir, dan al-Ziyadat. Keaemuanya ini dipimpin Abi Al-Fadhl Muhammad abn Ahmad Al-Maruzi (w. 334 H/945 M) dalam satu kitab yang berjudul al-kafi.
  1. Al-Nawadir, yaitu kitab yang ditulis berdasarkan pandanganya sendiri, seperti Amali     Muhammad fi al-fiqih, al-Ruqayyat, al-Makharij fi al-Hiyal, al-Radd ’ala Ahl Madinah,  al-Ziyadah, al-Atsar, dan al-Kasb.

C. Pemikiran Ekonomi

Dalam mengungkapkan pemikiran ekonomi Al-Syaibani, para ekonom muslim banyak merujuk pada kitab al-Kasb. Kitab tersebut termasuk kitab pertama di dunia Islam yang membahas permasalahan ini. Oleh karena itu, tidak berlebihan bila Dr. Al-Janidal menyebut  Al-Syaibani sebagai salah seorang perintis ilmu ekonomi islam.

  1. Al-Kasb (kerja)
  2. Kekayaan Kefakiran
  3. Klasifikasi Usaha-usaha Perekonomian
  4. Kebutuhan-kebutuhan Ekonomi
  5. Spesialisasi dan Distribusi Pekerjaan

III. PEMIKIRAN EKONOMI ABU UBAID

(150 ‚Äď 224 H)

A.  Riwayat Hidup

Abu Ubaid bernama lengkap Al-Qasim bin Sallam bin Miskin bin Zaaid Al-Harawi Al-Azadi Al-Baghdadi. Ia lahir pada tahun 150 H di kota Harrah, Khurasan, sebelah barat laut Afganistan. Abu Ubaid berkelana untuk menintut ilmu ke berbagai kota, seperti Kufah, Basrah dan Baghdad. Ilmu-ilmu yang dipelajarinya antara lain mencakup ilmu tata bahasa Arab, qira’at, tafsir, hadis, dan fiqih. Penulis kitab al-Amwal ini tinggal di Baghdad selama 10 tahun. Pada tahun 219 H, setelah berjanji, ia menetap di Makkah sampai wafatnya. Ia meninggal pada tahun 224 H.

B.  Latar Belakang Kehidupan dan Corak Pemikiran

Abu Ubaid merupakan seorang ahli hadis (muhaddist) dan ahli fiqih (fuqaha) terkemuka di masa hidupnya. Karena sering terjadi pengutipan kata-kata Amr dalam kitab al-Amwal, tampaknya, pemikiran-pemikiran Abu Ubaid dipengaruhi oleh Abu Amr Abdurrahman ibn Amr Al-Awza’i. Berbeda halnya dengan Abu Yusuf, Abu Ubaid tidak menyinggung tentang msalah kelemahan sistem pemerintahan serta penanggulanganya. Namun demikian, kitab al-Amwal dapat dikatakan lebih kaya daripada kitab al-kharaj dalam hal kelengkapan hadis dan pendapat para sahabat.

Berdasarkan hal tersebut,Abu Ubaid berhasil menjadi salah seorang cendekiawan Muslim terkemuka pada awal abad ketiga Hijriyah (abad kesembilan masehi) yang menetapkan revitalisasi sistem perkonomian berdasarkan Alquran dan hadis melalui reformasi dasar-dasar kebijakan keuangan dan institutnya.Disisi lain, Abu Ubaid dituuh oleh Husain ibn Ali Al-kharabisi sebagai seorang plagiator terhadap karya-karya Al-Syafi’i, termasuk dalam penulisan kitab al-Amwal. Dengan demikian tidak mengejutkan jika terdapat kesamaan dalam pandangan-pandangan antara kedua tokoh besar tersebut, sekalipun terkadang Abu Ubaid mengambil posisi yang bersebrangan dengan Al-Syafi’i dengan tanpa menyebut nama.

C.  Isi, Format dan Metodologi Kitab al-Amwal

Kitab al-Amwal dibaga ke dalam beberapa bagian dan bab yang tidak proporsional isinya. Pada bab pendahuluan, Abu Ubaid secara singkat membahas hak dan kewajiban rakyat terhadap pemerintahnya, dengan studi khusus mengenai kebutuhan terhadap suatu pemerintahan yang adil.

Secara umum pada masa hidupnya Abu Ubaid, pertanian dipandang sebagai sektor usaha yang paling baik dan utama karena menyediakan kebutuhan dasar, makanan dan juga marupakan sumber utama pendapatan negara.

D.  Pandangan Ekonomi Abu Ubaid

1. Filosofi Hukum dan Sisi Ekonomi

2. Diktomi Badui ‚Äď Urban

3. Kepemilikan dalam konteks Kebijakan Perbaikan Pertanian

4. Pertimbangan Kebutuhan

5. Fungsi Uang.

E.  Kesimpulan

Bila dilihat dari sisi masa hidupnya yang relatif dekat dengan masa hidup Rasullulah, wawasan pengetahuanya serta isi, format serta metodologi kitab al-Amwal , Abu Ubaid pantas disebut sebagai pemimpin dari ‚ÄĚ pemikiran ekonomi mazhab klasik ‚ÄĚ diantara para penulis tentang keuangan publik (public finance).

IV. PEMIKIRAN EKONOMI YAHYA BIN UMAR

(213 ‚Äď 289 H)

A.  Riwayat Hidup

Yahya bin Umar merupakan salah seorang faquha mazhab Maliki. Ulama bernama lengkap Abu Bakar Yahya bin Umar bin Yusuf Al-Kananni Al-Andalusi ini lahir pada tahun 213 H dan dibesarkan di Kordova, Spanyol. Seperti para cendekiawan Musim terdahulu, ia berkelana ke berbagai negeri untuk menuntut ilmu. Dalam perkembangan selanjutnya, ia menjadi pengajar di Jami’ Al-Qairuwan.  Pda masa hidupnya terjadi konflik yang menajam antara fuqaha Malikiyah dengan fuqoha Hanafiah yang dipicu oleh persaingan memperbutkan pengaruh dalam pemerintahan. Yahya Umar terpaksa pergi ke Qairuwan dan menetap di sausah ketika Ibnu ’Abdun, yang berusaha para ulama penentangnya, baik dengan cara memenjarakan maupun membunuh, menjabat qadi di negeri itu. Setelah Ibnu ’Abdun turun dari jabatanya, Ibrahim bin Ahmad Al-Aglabi  menawarkan jabatan qadi kepada Yahya bin Umar. Namun ia menolaknya dan memilih tetap tinggal di Susah serta mangajar di Jami’ Al-Sabt hingga akhir hayatnya. Yahya bin Umar wafat pada tahun 289 H (901 M).

B.  Kitab Ahkam al-Suq

Semasa hidupnya, disamping aktif mengajar, Yahya bin umar juga banyak menghasilkan karya tulishingga mencapai 40 juz. Diantara berbagai karyanya yang terkenal adalah al-Muntakhabah fi ikhtishar al-Mustakhirijah fi al-Fiqh al-Maliki dan kitab Ahkam al-Suq. Dengan demikian, pada masa Yahya bin Umar, kota Qairuwan telah memiliki dua keistimewaan, yaitu:

  1. Keberadaan institusi pasar mendapat perhatian khusus dan pengaturan yang memadai dari penguasa.
  2. Dalam lembaga peradilan, terdapat seorang hakim yang khusus menangani berbagai permasalahan pasar.

C.  Pemikiran Ekonomi

Menurut Yahya bin Umar, aktivitas ekonomi merupakan begian yang tak terpisahkan dari ketakwaan seorang muslim kepada Allah Swt. Berkaitan dengan hal ini,Yahya bin Umar berpendapat bahwa al-tas’ir (penetapan harga) tidak boleh dilakukan. Ia berhujjah dengan berbagai hadis Nabi Muhammad Saw. Jika kita mencermati konteks hadis tersebut, tampak jelas bahwa Yahya ibn Umar melarang kebijakan penetapan harga jika kenaikan harga yang terjadi adalah samata-mata hasil interaksi penawaran dan permintaan yang alami.

D. Wawasan Modern Teori Yahya bin Umar

Sekalipun tema utama yang diangkat dalam kitabnya, Ahkam al-Saq, adalah mengenai hukum-hukum pasar, pada dasarnya, konsep Yahya bin Umar lebih banyak terkait dengan permasalahan ihtikar dan siyasah. Dalam ilmu ekonomi kontemporer, kedua ahal tersebut masing-masing dikenal dengan istilah monopoly’srent-seeking dan dumping.

  1. Ihktiar (Monopoly’s Rent-Seeking)
  2. Siyasah al-iqhrag (Dumping Policy)

V. PEMIKIRAN EKONOMI AL-MAWARDI

(364 ‚Äď 450 H/974 ‚Äď 1058)

A. Riwayat Hidup

Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi Al-Basri Al-Syafi’i lahir di kota Basrah pada tahun 364 H (974 M).Setelah mengawali pendidikanya di kota Basrah dah Baghdad selama dua tahun, ia mengalana keberbagai negeri Islam untuk menuntut ilmu. Berkat keleluasaanya ilmunya, salah satu tokoh besar mazhab Syafi’i ini diprcaya memangku memangku jabatan qhadi (hakim) diberbagai negri secara bergantian. Setelah itu Al-Mawardi kembali kekota baghdad untuk beberapa waktu kemdian diangkat sebagai Hakim agung pada masa pemerintahan Khalifah Al-Qaim bin Amrillah Al-Abbasi.

Sekalipun telah menjadi hakim, Al-Mawardi tetap aktif mengajar dan menilis.Dengan mewariskan dengan bebagai karya tulis yang sangat berharga tersebut, Al-Mawardi meninggal dunia pada bulan Rabiul Awwal tahun 450 H (1058 M) di kota Baghdad pada usia 86 tahun.

B. Pemikiran Ekonomi

Pada dasarnya, pemikiran ekonomi Al-Mawardi tersebar paling tidak pada tiga buah karya tilisnya, yaitu Kitab adab ad-Dunya wa ad-Din, al-Hawi dan al-Ahkam as-Sulthainiyah. Dalam kitab Adab ad-Dunya wa ad-Din. Dari ketiga karya tilis tersebut, para peneliti Islam tampaknya sepakat menyatakan bahwa al-Ahkam as-Sultaniyyah merupakan kitab yang paling komprehensipf dalam mempresentasikan pokok-pokok pemikiran ekonomi Al-Mawardi. Sumbangan utama Al-Mawardi terlatak pada pendapat mereka tentang pembebanan pajak tambahan dan dibolehkanya peminjaman publik.

Negara dan Aktivitas Ekonomi

Teori keuangan pulik selalu terkait dengan peran negara dalam kehidupan ekonomi. Negara membutuhkan karena dibutuhkan karena beroeran untuk memenuhi kebutuhan kolektif seluruh warga negaranya. Selanjutnya, Al-Mawardi berpendapat bahwa negara harus menyadiakan infrastruktur yang diperlukan bagi perkembangan ekonomi dan kesejahteraan umum. Lebih jauh, ia menyebutkan tugas-tugas negara dalam kkerangka pemenuhan kebutuhan dasar setiap warga sebagai berikut:

  1. Melindungi agama
  2. Menegakan hukum dan stabilitas
  3. Memelihara batas negara islam
  4. Menyediakan ikilm ekonomi yang kondusif
  5. Menyediakan administrasi publik, peradilan, dan pelaksanaan hukkum islam
  6. Mengumpulkan pendapat dari berbagai sumber yang tersedi serta menaikanya dengan menerapkan pajak baru jika situasi menuntutnya, dan
  7. Membelanjakan dana-dana Baitul Mal untuk berbagai tujuan yang telah menjadi kewajibanya

Seperti yang telah disebutkan, negara bertanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan dasar setiap warga negara serta merealisasikanya kesejahteraan dan perkembangan ekonomi secara umum.

Perpajakan

Sebagai trend pada masa klasik, masalah perpajakn juga tidak luput dari perhatian Al-Mawardi. Maenurutnya penilaian atas karaj harus bervariasi sesuai ddengan faktor-faktor yang menentukan kemampuan tanah dalam membayar pajak, yaitu kesuburan tanah, jenis tanaman dan sistem irigasi. Disamping ketiga faktor tersebut, Al- Mawardi juga mengungkapkan faktor yamg lain, yaitu jarak antara tanah yang menjadi objek kharaj dengan pasar.

Tentang metode penetapan kharaj, Al-Mawardi menyarankan untuk menggunakan salah satu dari ketiga metode yang pernah diterpkan dalam sejarah islam yaitu:

  1. Metode Misahah, yaitu metode penetapan kharaj berdasarkan ukuran tanah
  2. Metode penetapan kharaj berdasarkan ukuran tanah yang ditanami saja
  3. Metode Musaqah, yaitu metode penetapan kharaj berdasarkan persentase dari hasil produksi (proportional tax).

Buitul Mal

Lebih jauh, Al-Mawardi menegaskan, adalah tanggung jawab Baitul Mal untuk memenuhi kebutuhan publik. Ia mengklasifikasikan berbagai tanggung jawab Baitul Mal kedalam dua hal yaitu:

  1. Tanggung jawab yang timbul dari berbagai harta benda yang disimpan di Baitul Mal sebagai amanah didistribusikan kepada mereka yang berhak, dan
  2. Tanggung jawab yang timbul seiring dengan adanya pendapatan yang menjadi aset kekayaan Baitul Mal itu sendiri.

Lebih jauh, Al-Mawardi menklasifikasikan kategori tanggung jawab Baitul Mal yang kedua ini menjadi dua hal. Pertama, tanggung jawab yang timbul sebagai pangganti atas nilai yang diterima (badal). Kedua,tanggung jawab yang muncul melalui bantuan dan kepentingan umum.

Dengan de mikian, menurut Al-Mawardi, pembelanjaan publik, seperti halnya perpajakan, merupakan alat yang efektif untuk mengalihkan sumber-sumber ekonomi. Pernyataan Al-Mawardi tersebut juga mengisyratkan bahwa pembelanjaan publik akan meningkatkan pendapatan masyarakat secara keseluruhan.

VI. PEMIKIRAN EKONOMI  AL-GHAZALI

(450 ‚Äď 505 H/1058 ‚Äď 1111)

A.  Riwayat Hidup

Hujjatul Islam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Tusi Al-Ghazali lahir di Tus, sebuah kota kecil di Khurasan, Iran, pada tahun 450 H (1058 M). Sejak kecil, Imam Ghazali hidup dalam dunia tasawuf. Ia tumbuh dan berkambang dalam asuhan seorang sufi, setelah ayahnya yang juga seorang sufi meninggal dunia.

Sejak muda , Al-Ghazali sangat antusias terhadap ilmu pengetahuan. Ia pertama-tama belajar bahasa arab dan fiqih di kota Tus, kemudian pergi kekota Jurjan untuk belajar dasar-dasar Usul fiqih. Setelah kembali kekota Tus selama beberapa waktu, ia pergi ke Naisabur untuk melanjutkan rihlah ilmiahnya. Dikota ini, Al-Ghazali belajar kepada Al-Haramain Abu Al-Ma’ali Al-Juwaini, sampai yang terakhir ini wafat pada tahun 478 H  (1085 M).

Oleh karena itu, pada tahun 488 H (1095 M), Al-Ghazali meninggalkan Baghdad dan pergi menuju ke Syira untuk merenung, membaca, dan menulis selama kurang lebih 2 tahun. Kemudian ia pindah ke Palestina untuk melakukan aktivitas yang sama dengan mengambi tempa Baitul Maqdis. Al-Ghazali memilih tempat kota ini sebagai tempat menghabiskan waktu dan energinya untuk menyaebarkan ilmu pengetahuan, hingga meninggal dunia pada pada tanggal 14 Jumadil Akhir 505 H atau 19 Desember 1111 M.

B. Karya-karya

Al-Ghazali meurpakan sosok ilmuwan dan penulis yang sangatproduktif. Berbagai tulisanya telah banyak menarik pergatian dunia, baik dari kalangan Muslim maupun non Muslim.AL-Ghazali, diperkirakan telah menghasilkan 300 buah karya tilis yang meliputi berbagai disiplin ilmu,seperti logika, filsafat, moral, tafsir, fiqih, ilimu-ilmu Alqur’an, tasawuf, politik, administrasi, dan prilaku ekonomi. Namun demikian, yang ada hingga kini hanya 84 buah. Di antaranya adalah Ihya ’Ulum al-Din, al-Munqidz min al-Dhalal, Tahafut al-Falasifah, Minhaj Al-’Abidin, al-Mustashfa min ’Ilm al-Ushul, Mizan Al-’Amal, Misykat al-Anwar, Kimia al-Sa’adah, al-Wajiz, Syifa al-Ghalil, dan al-Tibr al-Masbuk fi Nasihat al-Muluk.

C. Pemikiran Eonomi

Seperti halnya pera cendekiawan Muslim terdahulu, perhatian Al-Ghazali terhadap kehidupan masyarakat tidak terfokus pada satu bidang tertent, tetapi meliputi seluruh espek kehidupan manusia seluruhnya. Berkaitan dengan hal ini, al-Ghazali memfokuskan seluruh perhatianya pada prilaku individu yang dibahasnya menurut perspektif Alquran, sunah, fatwa-fatwa, sahabat dan tabi’in, serta petuah-petuah para sufi terkemuka masa sebelumnya, seperti Junaid Al-Baghdadi, Dzun Nun Al-Mishri, dan Harits bin Asad Al-Muhasibi.

Al-Ghazali mendefinisikan aspek ekonomi dari fungsi kesejahteraan sosialnya dalam kerangka sebuah hierarki utilitas individu dan sosial yang tripartite, yakni kebutuhan, kesenangan atau kenyamanan, dan kemewahan. Kunci pemeliharaan dari kelima tujuan dasar ini terletak pada penyediaan tingkatan pertama, yaitu kebutuhan terhadapmakanan, pakaian, dan perumahan.

1.Pertukaran Sukarela dan Evolusi Pasar

  1. Permintaan, Penawaran, Harga, dan Laba
  2. Etika Perilaku Pasar

2.Aktivitas Produksi

a.   Produksi Barang-barang Kebutuhan Dasar sebagau Kewajiban Sosial

b.   Hierarki Produksi

c.    Tahapan Produksi, Spesialisasi dan Keterkaitanya

3.Barter dan Evolusi Uang

a. Problem Barter dan Ketuhan terhadap Uang

b. Uang yang Tidak Bermanfaat dan Penimbunan Bertantangan Dengan Hukum Ilahi

c. Pemalsuan dan Penurunan Nilai Uang

d. Larangan Riba

4.Peranan Negara dan Keungan Publik

a. Kemajuan Ekonomi Melalui Keadilan, Kedamaian, dan Stabilitas

b. Keuangan Publik

VII. PEMIKIRAN EKONOMI ABNU TAIMIYAH

(661 ‚Äď 728 H/1263 ‚Äď 1328 M)

A. Riwayat Hidup

Ibnu Taimiyah yang bernama langkap Taqiyuddin Ahmad bin Abdul Halim lahir di kota Harran pada tanggal 22 Januari 1263 M (10 Rabiul Awwal 661 H). Ia berasal dari keluarga yang berpendidikan tinggi.Ayah, paman dan kakeknya merupakan ulam besar Mazhab Hanbali dan penulis sejumlah buku. Brkat kecerdasan dan kejeniusanya, Ibnu Taimiyah yang masih berusia sangat muda telah mampu menamatkan sejumlah mata pelajaran, seperti tafsir, hadis, fiqih, matematika, dan filsafat serta berhasil menjadi yang terbaik diantara teman-teman seperguruanya.

Kehidupan Ibnu Taimiyah tiadk hanya terbatas pada dunia buku dan kata-kata. Ketika kondisi menginginkanya, tanpa ragu-ragu ia turut serta dalam dunia politik dan urusan publik. Penghormatanya begitu besar yang diberikan kepada Ibnu Taimiyah membuat sebagian oarang menjadi iri dan berusaha untuk menjatuhkan dirinya.Sejarah mencatat bahwa sepanjang hidupnya, Ibnu Taimiyah telah menjalani masa tahanan sebanyak empat kali akibat fitnah yang dilontarkan para pemnentanganya.

Selama dalam tahanan, Ibnu Taimiyah tidak pernah berhenti untuk mengajar dan menulis.Bahkan, ketika penguasa mencabut haknya untuk menulis dengan cara pena dan kertasnya, ia tetap menulis dengan menggunakan batu arang. Ibnu Taimiyah telah meninggal dunia didalam tahanan pada tanggal 26 September 1328 M (20 Dzul Qaidah 728 H) setelah mengalami perlakuan yang sangat kasar selama lima bulan.

B.Pemikiran Ekonomi

Pemikiran ekonomi Ibnu Taimiyah banyak diambil dari berbagai karya tulisnya, antara lain Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam, as-Siyasah asy-Syar’ayyah fi Ishlah ar-Ra’i wa ar-Ra’iyah dan al-Hisbah fi al-Islam.

1.Harga yang Adil Mekanisme Pasar dan Regulasi Harga

a. Harga yang Adil

Konsep harga yang adil pada hakikatnya tekah ada digunakan sejak awal kehadiran islam. Alquran menekankan keadilan dalam setiap aspak kehidupan umat manusia. Oleh kerena itu, adalah hal yang wajar jika keadilan juga diwujudkan dalam aktivitas pasar, khusnya harga.

b.Mekanisme Pasar

Ibnu Taimiyah memiliki sebuah pemahaman yang jelas tantang bagaimana, dalam suatu pasar bebas, harga ditentukan oleh kekuatan permintaan dan penawaran. Pernyataan Ibnu Taimiyah menunjkan pada apa yang dikenal sekarang sebaagai perubahan fungsi penawaran dan permintaan, yakni ketika terjadi peningakatan permintaan pada harga yang sama dan penurunan persediaan pada harga yang sama atau sebaliknya,penurunan permintaan pada harga yang sama dan pertambahan persediaan pada harga yang sama.

c. Regulasi Harga

Setelah menguraikan secara panjang lebar tentang konsep harga yang adil dam mekanisme pasar, Ibnu Taimiyah melanjutkan pembahasan dengan pemaparan secara detail mengenai konsep kebijakan pengendalian harga oleh pemerintah. Ibnu Taimiyah membedakan dua janis penetapan harga, yakni penetapan harga yang tidak adil dan cacat hukum serta penetapan harga yang adil dan sah menurut hukum. Penetapan harga yang tidak adil dan cacat hukum adalah penetapan harga yang yang dilakukan pada saat kenaikan harga-harga terjadi akibat persaingan beba,yakni kelangkaan supply dan kenaikan demand.

2.  Uang dan Kebijakan Moneter

a. Karaketristik dan Fingsi Uang

b. Penurunan Nilai Mata Uang

c. Mata Uang yang Buruk Akan Menyingkirkan Mata Uang yang Baik

 

VIII. PEMIKIRAN EKONOMI AL-SYATIBI

(790 H/1388 M)

A.  Riwayat Hidup

Al-Syatibi yang bernama lengkap Abu Ishaq bin Musa bin Muhammad Al-Lakhmi Al-Gharnati merupakan salah satu cendekiawan Muslim yang belum banyak mengatahui latar belakang kehidupanya. Yang jelas, ia berasal dari usku Arab Lakhmi. Nama Al-Syatibi dinisbatkan kedaerah asal keluarganya, Syaitibah (Xatiba atau Jativa), yang terletak dikawasan Spanyol bagian timur.

Al-Syaitibi dibesarkan dan memperoleh seluruh pendidikanya di Ibukota kerajaan Nashr, Granada, yang merupakan benteng terakhir umat Islam di Spanyol. Msa mudanya bertepatan dengan masa pemerintahan Sultan Muhammad V Al-Ghani Billah yang masa keemasan Islam setempat karena Granada menjadi pusat kegiatan ilmiah dengan berdirinya Universitas Granada.

Setelah memperileh ilmu pengetahuan yang memadai,Al-Syatibi mengembangkan potensi keilmuanya dengan mengjarkan kepada para generasi berikutnya, seperti Abu Tahya ibn Asim, Abu Bakar Al-Qadi dan Abu Abdilah Al-Bayani. Disamping itu, ia juga mewarisi karya-karya ilmiah, seperti Syarh Jalil ’ala al-Khulashah fi al-Nahw dan Ushul al-Nahw dalam bidang bahasa Arab dan al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari’ah dan al-I’tisham dalam bidang Ushul fiqih. Al-Syatibi wafat pada tanggal 8 Sya’ban 790 H (1388 M).

B.  Konsep Maqashid al-Syari’ah

Sebagai sumber utama agama Islam, Alquran mengandung berbagai ajaran. Ulama membagi kandungan Alquran dalam tiga bagian besar, yaitu aqidan, akhlak, dan syariah. Alquran tidak memuat berbagai aturan  yang terperinci tentang ibadah dan muamalah. Ia hanya mengandung dasar-dasar atau prinsip-prinsip bagi berbagai masalah hukum dalam Islam.

Dengan demikian, kewajiban-kewajiban dalam syariah menyangkut perlindungan maqashid al-syri’ah yang pada giliranya bertujuan melindungi kemaslahatan manusia. Al-Syatibi menjelaskan bahwa syariah berurusan dengan perlindungan mashalih, baikdengan cara yang positif, seperti demi menjaga eksistensi mashalih, syariah mengambil berbagai tindakan untuk menunjang landasan-landasan mashalih; maupun dengan cara preventif, seperti syariah mengambil berbagai tindakan untuk melenyapkan unsur apapun yang secara aktual atau potensial merusak mashalih.

1.  Pembagian Maqashid al-Syari’ah

a.Dharuriyat

b.Hajiyat

c.Tahsiniyat

2.  Korelasi Antara Dharuriyat, Hajiyat, dan Tahsiniyat

  • Kerusakan pada maqashid dharuriyat akan membawa kerusakan pula pada ¬†maqashid hajiyat dan maqashid tahsiniyat.
  • Sebaliknya, kerusakan pada maqashid hajiyat dan maqashid tahsiniyat tidak dapat merusak maqashid dharuriya.
  • Kerusakan pada maqashid hajiyat dan maqashid tahsiniyat yang bersifat absolute terkadang dapat merusak maqashid dharuriyat
  • Pemeliharaan maqashid hajiyat dan maqashid tahsiniyat diperlukan demi pemeliharaan maqashid dharuriyat secara tepat.

Lebih jauh, telah menyatakan bahwa segala aktifitas atau sesuatu yang bersifat tahsiniyat harus dikesampingkan dengan maqashid yang lebih tinggi (dharuriyat dan hajiyat).

A. Beberapa Pandangan Al-Syatibi di Bidang Ekonomi

1. Objek Kepemilikan

Pada dasarnya, Al-Syatibi mengakui hak milik individu. Namun, ia menolak kepemilikan individu terhadap setiap sumberdaya yang dapat menguasai hajad hidup orang banyak. Lebih jauh ia menyatakan bahwa tidak ada hak kepemilikan yang dapat diklaim terhadap adanya pembangunan.

2. Pajak

Dalam pandangan Al-Syatibi, pemungutan pajak harus dilihat dari sudut pandang maslahah (kepentingan umum). Oleh karena itu, pemerintah dapat mengenakan pajak-pajak baru terhadap rakyatnya, sekalipun pajak tersebut belum pernah dikenal dalam sejarah Islam.

B. Wawasan Modern Teori Al-Syatibi

Dari pemaparan konsep Maqashid al-Syari’ah diatas, terlihat jelas bahwa syariah menginginkan setiap individu memperhatikan kesejahteraan mereka. Dengan kata lain, manusia senantiasa dituntut untuk mencari kemaslahatan. Dengan demikian, seluruh aktivitas ekonomi yang mengandung kemaslahatan bagi umat manusia disebut kebutuhan (needs).


IX. PEMIKIRAN EKONOMI IBN KHALDUN

(732-808 H/1332-1406 M)

A. Riwayat Hidup

Ibn Khaldun yang bernama lengkap Abdurrahman Abu Zaid Waliuddin ibn Khaldun lahir di Tunisia pada awal Ramadhan 732 H atau bertepatan dengan 27 Mei 1332 M. Berdasarkan silsilahnya, Ibn Khaldun masih mempunyai hubungan darah dengan Wail bin Hajar, salah seorang sahabat nabi yang terkemuka. Keluarga Ibn Khaldun yang berasal dari Hadramaut, Yaman, ini terkenal sebagai keluarga yang berpengetahuan luas dan berpangkat serta menduduki berbagai jabatan tinggi kenegaraan.

Seperti halnya tradisi yang sedang berkembang di masa itu, Ibn Khaldun mengawali pelajaran daari ayah kandungnya sendiri. Setelah itu, ia pergi berguru kepada para ulama terkemuka, seperti Abu Abidillah Muhammad bin Al-Arabi Al-Hashayiri, Abu Al-Abbas Ahmad ibn Al-Qushshar, Abu Abdillah Muhammad Al-Jiyani, dan Abu Abidillah Muhammad ibn Ibrahim Al-Abili, untuk mempelajari berbagai ilmu pengetahuan, seperti tata bahasa Arab, hadis, fiqih, teologi, logika, ilmu alam, matematika, dan astronomi.

Dari tahun 1375 M sampai 1378 M, ia menjalani pensiunnya di Gal’at Ibn Salamah, sebuah puri di provinsi Oran, dan mulai menulis sejarah dunia dengan muqaddimah sebagai volume pertamanya. Pada tahun 1378 M, karena ingin mencari bahan dari buku-buku di berbagai perpustakaan besar, Ibn Khaldun mendapatkan izin dari Pemerintah Hafsid untuk kembali ke Tunisia. Di sana, hingga tahun 1382 M ketika berangkat ke Iskandariah, ia menjadi guru besar ilmu hukum. Sisa hidupnya dihabiskan di Kairo hingga ia wafat pada tanggal 17 Maret 1406 M.

B. Karya-karya

Karya terbesar Ibn Khaldun adalah Al-Ibar (Sejarah Dunia). Karya ini terdiri dari tiga buah buku yang terbagi ke dalam tujuh volume, yakni Muqaddimah (satu volume), Al-Ibar (4 volume) dan Al-Ta’rif bi Ibn Khaldun (2 volume). Secara garis besar, karya ini merupakan sejarah umum tentang kehidupan bangsa Arab, Yahudi, Yunani, Romawi, Bizantium, Persia, Goth, dan semua bangsa yang dikenal masa itu.

Namun demikian, Ibn Khaldun menguraikan dengan panjang lebar teori produksi, teori nilai, teori distribusi, dan teori siklus-siklus yang kesemuanya bergabung menjadi teori ekonomi umum yang koheren yang menjadi kerangka sejarahnya.

C. Pemikiran Ekonomi

1.      Teori produksi

Bagi Ibn Khaldum, prouduksi adalah aktivitas manusia yang dioraganisasikan secara sosial dan internasional.

  1. Tabiat Manusiawi dan Produksi
  2. Organisasi Sosial dari Produksi
  3. Organisasi Internasional

2.      Teori Nilai, Uang, dan Harga

Ibn Khaldum, dalam Muqaddinah-nya, menguraikan teori nilai, teori uang,dan teori harga.

  1. Teori Nilai
  2. Teori Uang
  3. Teori Harga

3.      Teori Distribusi

Harga suatu produk terdiri dari tiga unsur: gaji, laba, dan pajak.Setiap unsur ini merupakan imbal jasa terhadap kelompok dalam masyarakat: gaji adalah jasa bagi produser, laba adalah imbal jasa bagi pedagang, dan pajak adalah ambal jasa bagi pegawai negeri dan penguasa.

a.      Pendapat tentang Pengajian Eleman-elemen Tersebut

1.Gaji

2.Laba

3.Pajak

b.      Eksitensi Distribusi Optimum

Dengan denikian,besarnya ketiga jenis pendapataan ini ditentukan oleh permintaan dan penawaran. Menurut Ibn Khaldun, pendapat ini memiliki nilai optimum.

1.Gaji

2.Laba

3.Pajak

4. Teori Siklus

Bagi Ibn Khaldum, produksi berganting pada penawaran dan [ermintaan terhadap produk. Namun penawaran sendiri tergantung pada jumlah produsen dan hasratnya untuk bekerja.Karenanya, variabel penentu bagi produksi adalah populasi serta pendapatan dan belanja negara.

a.  Siklus Populasi

b.Siklus Keuangan Publik

1.     Pengeluaran pemerintah

2.     Perpajakan

X. PEMIKIRAN EKONOMI AL-MAQRIZI

(766 ‚Äď 845 H/1364 ‚Äď 1442 M)

A. Riwayat Hidup Al-Maqrizi

Nama lengkap Al-Maqrizi adalah Taqiyuddin Abu-Abbas Ahmad bin Abdul Qadir Al-Huasani. Ia lahir di desa Barjuan, Kairo, pada tahun 766 H (1364 ‚Äď 1365). Keluarga berasal dari Maqarizah, sebuah desa yang terletak di kota Ba‚Äôla bak. Oleh karena itu, ia cenderung dikenal sebagai Al-Makrizi.

Kondisi ayahnya yang lemah menyebabkan pendidikan masa kecil dan remaja Al-Maqrizi berada dibawah tanggungan kakeknya dari pihak ibu, Hanafi ibn Sa’igh, seoerang pengnut mazhab hanafi. Al-Maqrizi muda pun tumbuh berdasarkan pendidikan mazhab ini. Setelah kakeknya meninggal dunia pada tahun 786 H (1384 M), Al-Maqrizi beralih ke Mazhab Safi’i. Bahkan dalam pengembangan pemikiranya, ia terlihat canderung menganut mazhab Zhahiri.

Ketika berusia 22 tahun, Al-Maqrizi terlibat dalam berbagai tugas pemerintahan Dinasti Mamluk. Pada tahun 788 H (1386 M), Al-Maqrizi memulai kiprahnya sebagai pegawai di Diwan Al-Insya, semacam sekretariat negara. Pada tahun 791 H (1389 M), Sultan Barquq mengangkat Al-Maqrizi sebagai muhtasib di Kairo. Pada tahun 881 H(1408 M), Al-Maqrizi diangkat sebagai pelaksana administrasi waqaf di Qalanisiyah, sambil bekerja di rumah sakit an-Nuri, Damaskus.

Lima tahun kemudian, Al-Maqrizi kembali kekampung halamanya, Barjuan, Kairo. Disni ia juga aktif mengjar dan menulis, terutama sejarah Islam, hingga terkenal sebagai sebagaiseorang sejarawan besar pada abad ke-9 Hijrah. Al-Maqrizi meninggal dunia di Kairo pada tanggal 27 Ramadhan 845  H atau bertepatan dengan tanggal 9 Februari 1442 M.

B. Karya-karya Al-Maqrizi

Semasa ,Al-Maqrizi sangat produktif menulis berbagai bdang ,sejarah islam.Buku-buku kecilnya memiliki urgensi yang khas serta menguraian berbagai macam ilmu yang tidak tidak terbatas pada tulisan sejarah. Sedangkan karya tehadap karya-karya Al-Maqrizi yang berbentuk buku besar,Al-Syayal membagi menjadi tiga kategori. Pertama, buku yanng membahas sejarah dunia, Seperti kitab Al-Khabar ’an Al-Basyr. Kedua, buku yag menjelaskan tentang sejarah Islam umum, seperti kitab Al-Durar Al-Mahdi’ah fi tarkh Al-Daulah Al-Islamiyyah. Ketiga, buku yang menguraikan sejah Mesir pada masa Islam, seperti kitab Al-Mawa’izh wa Al-I’ibar bi Dzikr Al-Aimmah Al-Fathimiyyin Al-Khulafa, dan kitab Al-Suluk li Ma’rifah Duwal Al-Muluk.

C. Pemikiran Ekonomi Al-Maqrizi

1.      Konsep Uang

  1. Sejarah dan Fungsi Uang
  2. Implikasi Pencipta Mata Uang Buruk
  3. Konsep Daya Beli Uang

2.      Teori Inflasi

  1. Inflasi Alamiah
  2. Inflasi Karena Kesalahan Manusia

1)Korupsi dan Administrasi yang Buruk

2)Pajak yang Barlebihan

3)Peningkatan Sirkulasi Mta Uang Fulus.

Wawasan Modern Teori Al-Maqrizi

Apa yang telah dituangkan oleh Al-Maqrizi dalam karyanya tersebut dapat dikatakan sangat berbau ilmu ekonomi modern. Jika kita membandingkan karya Al-Maqrizi dengan karya dari ilmuwan Barat, maka karya Al-Maqrizi tersebut dapat disetarakan dengan pemikiran ekonom-ekonom Barat dari Abad XIX  dan Abad XX. Pda dasarnya Al-Maqrizi membagi penyebab Inflasi menjadi dua penyebab utama yaitu: penyebab alamiah (natural inflation) dan penyebab kesalahan manusia  (human error inflation).


dokumen makalah
Manajemen perbankan Syariah
Program Diploma III Fakultas Ekonomi
Universitas Sriwijaya